Butuh piknik, benarkah?
Pernahkah temen-temen bilang "yaelah stress amat, kurang piknik lu" "putek nih gue, butuh piknik kayaknya" atau "kuy lah refresing kita biar hidupnya berwarna, piknik kita" dan seterusnya dan seterusnya. Kita juga dimudahkan untuk piknik dengan berbagai aplikasi yang memungkinkan kita merencanakan segala sesuatu tentang piknik. Traveloka, tiket.com, dan sejenisnya membuat kita mampu memplaning liburan tanpa perlu repot-repot antri dan mencari informasi yang belum tentu alamatnya bener *berasa ayu ting tong owe "alamat palsu". Apakah salah? Nggak juga sih sebenarnya. Cuma ya kita perlu mikir hal lain juga selain piknik. Gini yah Bro en Sis, hidup itu bukan cuma untuk saat inu tok, kita juga tak selamanya muda, tak selamanya memiliki tubuh yang sehat bugar seperti sekarang. Piknik boleh, boleh banget malah asalkan sesuai dengan budget yang aman. Apa itu budget aman? Kalau menurut owe pribadi sih yang tidak mengganggu tabungan masa depan kita. Ini juga buat orang yang ingin segera melangsungkan pernikahan, biaya pernikahan tak sedikit Bro en Sis. Bisa saja sih minim kalau kedua orang tua kalian santai mah, cuma kan kita nggak pernah tahu bakal kaya gimana nanti ketemu camer. Syukur kalau nggak minta banyak. Kalau minta banyak? #nahlo.
Trus juga yaa menurut riset dari BPS tahun 2008-2018 masyarakat kita mengalami pergeseran pengeluaran dari "kebutuhan" rekreasi. Dan, menurut riset dari Nielsen pada tahun 2015 milenials paling royal membelanjakan uang untuk rekreasi dan gaya hidup sebesar 46%. Gila nggak tuh?
Lalu sebenernya kita butuh banget nggak sih?
Kebanyakan dari kita kaum milenials itu cuma kebawa arus karena teman yang lain habis jalan-jalan dan di post di instagram, platform media sosial yang sedang sangat digandrungi oleh milenials. Entah ke luar kota maupun ke luar negeri dengan budget yang tak sedikit.
Lalu siapa korbannya?
Korbannya tabungan kita, kita menjadi sangat sulit untuk menabung, karena kita keseringan iri sama temen-temen yang keliatan asik dan bahagia yang mereka pertontonkan di instagram. Padahal belum tentu kehidupan sehari-hari mereka bahagia. Pas off kamera? Siapa yang tahu mereka bahagia atau duka? Tapi kita buru-buru mempercayai bahwa teman kita lebih bahagia dibanding kita.
Dan lagi, tahukah bro en sis sekalian? Bahwa milenials adalah kaum yang akan susah untuk mendapatkan tempat tinggal. Mulai sekarang cek deh harga rumah, harga tanah, udah sangat gila kan? Hitung dah tu dari gaji kalian sekarang untuk rumah impian masa depan kira-kira butuh waktu berapa lama? Belum lagi menikah, setelah menikah punya anak, kebutuhan anak, sekolah anak, dan seterusnya. Lalu? Kapan mau nyiapin semua? Apakah kamu mau kerja seumur hidup? Pilihannya ada di tangan Bro en Sis sekalian
Lalu apa langkah kongkretnya?
Simpel sebenernya, mulai dari sekarang susun target anggaran rencana masa depan. Apa saja? Minimalnya. Kebutuhan bulanan, rencana menikah, rencana rumah, rencana kendaraan, rencana kebutuhan anak, rencana sekolah anak. Ini yang paling minimal loh.
Baru, sisanya kalian alokasikan ke kebutuhan tersier misal kayak piknik ataupun, hobi, atau hal yang lain. Inget! Ini sisanya, bukan dijadikan prioritas.
Dan, kalau dipikir-pikir kadang kita piknik karena gengsi sama temen aja udah pernah kesini sini sini padahal mah nggak butuh-butuh amat. Kalaupun mau tetep piknik cari tempat dengan budget kecil namun kualitasnya bagus. Kadang yang penting itu bukan kemana tapi dengan siapa. Penting tuh, kadang kita lupa.
Lalu juga kalau merasa putek, coba dekatkan diri pada Allah, mungkin Dia rindu. Ketika gelisah? Coba baca Al-Qur'an, in syaa Allah akan diberikan ketenangan. Tak perlu keluar uang bukan?
Family time juga penting, kita sering abai bahwa orang dekat kita juga perlu interaksi agar semakin terjalin persaudaraan yang semakin erat.
Point intinya sih sebenernya
Kita harus bisa membedakan mana kebutuhan dan mana sekedar keinginan, jangan egois dan menuruti hawa nafsu, tak semua keinginan harus dilaksanakan. Berdamailah dengan diri sendiri.
Istajib masih menatap langit jogja












