Tricia read romance?! Heeh, jarang-jarang kaannn⦠Tapi Architecture of Love ini semacam remedy dari hidup yg belakangan hectic sekali. Jadi bisa back to reading lagi karena ceritanya ringan.
Oke. Cukup dengan bahasa campur sari ala anak Jaksel (that I believe begitu pula di buku versi bahasa indonesia kalau mengingat Critical Eleven). Kita putuskan saja pakai bahasa indonesia. Omong-omong, bukuā¦
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
ā Live Streamingā Interactive Chatā Private Showsā HD Qualityā Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
untuk yang telah menemukan, namun tak bisa memiliki
Antologi Rasa (movie), a review.
Ku merasa openingnya sungguh panjang. It's okay lah kalau di novel kita santai aja bacanya kan. Tapi pas nonton tuh, ini yang cerita narasi gini kepanjangan kayaknya, untuk mengenalkan tokoh-tokohnya ya.
Keara.
She is so damn gorgeous. Somehow masih agak kaku gitu aktingnya, tapi pas scene bangun tidur di hotel, kerreen parah, kena banget waktu itu. Although both in the book and the movie, I still feel it's so unfair for Harris to get blamed like that. My harris.
Harris.
Sepertinya kesalahan aku follow junot before, karena ku jadi terbentuk, junot tuh begini lho orangnya, pas liat harris tuh rasanya sedikit dipaksakan gitu. Junot tuh ga kaya gitu lho anaknya, baik baik kek ruly gituu, hahahah. But still, I try to look at him as harris instead of junot. And I laugh a lot thanks to him. My harris risjad.
Ruly.
Entah ya rasanya tatapan ruly ke keara itu penuh cinta banget, lebih penuh cinta daripada tatapan harris ke keara yang ada getirnya gitu: melihat tapi tak bisa memiliki, wkkwk. Sempet terbersit buat switch dari #TeamHarris ke #TeamRuly gara gara tatapan itu, tapi, I held myself, haha
Pandji.
OH HEEEY WHERE IS PANDJII, aku sempet lupa kalau harusnya ada pandji kaan di situ. Cerita di novelnya kan ga sesederhana ini kan. And I was so in love with pandji actually. He played quiet big role. But he will make the story complicated I guess, two hours definitely canāt include him.
Aku udah siap siap tisu, karena sempet baca pada nangis nontonnya, tapi sampe akhir aku ga meneteskan ayr mata weey. Sempet terharu siiihhhh, mungkin aku mengajak partner nonton yang salah yang justru ngakak mulu WKWKWK. Mungkin kalo nonton sendiri aku akan baper karena memikirkan di mana harris ku beradaa, di mana cintanya guee sekaraaang. Kemudian menangys, menangysi nasib diri sendiri.
Lebih banyak ketawa, film ini jadi so much fun karena ada harris risjad, cintanya gue.
Aku suka banget cara film ini menutup cerita, dengan kata kata yang sama dengan ia membuka, tapi dengan sudut pandang yang berbeda.
"Kalo dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Kalo dia bikin lo nangis, itu artinya lo cinta sama dia."
Dan ke mana pun keara pergi, yang dia liat cuma satu orang.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
ā Live Streamingā Interactive Chatā Private Showsā HD Qualityā Free Actions
Free to watch ⢠No registration required ⢠HD streaming
"Eh, tapi di hotel ada wi-fi, kan?" "Ehm, ada sih, Bu. Tapi wi-fi-nya ya macam perempuan sedang PMS, begitu. Sulit ditebak. Tergantung mood." "Betul, Ibu. Sinyal di sini masih GSM. Geser Sedikit Mati." (Susah Sinyal, 2018 : 98) . HAHAHAHHAHAHAHA. . Ini ada potongan bagian novel Susah Sinyal yang berhasil membuat saya ngakak tapi nggak sampai guling-guling. Sebuah novel karya Ika Natassa dan Ernest Prakasa yang diadaptasi dari skenario film yang berjudul sama; Susah Sinyal. . Saya sendiri nggak sempat nonton filmnya, tapi dengan membaca novel Susah Sinyal saya bisa berimajinasi sendiri. Dari dialog-dialog lucu khas jaman now oleh pemainnya, lalu bagaimana independennya tokoh Ellen yang berperan sebagai ibu dan wanita karir sekaligus, bagaimana kedekatan Oma dan Kiara, sampai bagaimana sedihnya Kiara yang merasa dibohongi mamanya sendiri. Huhu. . "Kalau nggak benar-benar tulus, nggak usah minta maaf." (Susah Sinyal, 2018 : 237) . Well, suatu hari saya harus tetap nonton film Susah Sinyal untuk melihat keindahan Sumba sampai orang-orang nggak peduli dengan sinyal GSM-nya. Karena sejatinya membaca novel Susah Sinyal hanya untuk mengobati kerinduan saya akan karya @ikanatassa š . #susahsinyal #ikanatassa #ernestprakasa #gramedia #bookworm #bookreview
Ā Sejak baca ini buku, rasanya udah pengen banget bikin semacam review, or a simple thing aja buat nunjukin penghargaan versiku buat penulisnya. Dicoba diulang-ulang lagi bacanya. Direnung-renungi. Tapi tetap belum kesampaian. Padahal seru banget bukunya ya. Alhasil, sampelah masa tayang filmnya di bioskop, dan baru akhir-akhir ini bisa liat secara full. Keinginan buat review itu muncul lagi. Semoga gak telat dan bosenin deh.
Ā āDalam dunia penerbangan, dikenal istilan critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat ā tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing- karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. Itās when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, itās kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena pada saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu delapan menit sebelum berpisah ā delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.ā
Ā Seberapa banyak sih yang tau bahwa ada istilah ācritical elevenā? Mungkin buat orang-orang yang memang bersahabat dengan pesawat, bisa lebih nyambung. Nah buatku yang bener-bener awam, C11 adalah sesuatu yang sungguh baru untuk dimengerti. Frasa C11 ini earcachy - enak dibaca, enak didenger, plus enak juga untuk aplikasi di kehidupan sehari-hari. Nyambung gitu. Btw, setelah tau C11, pas tetiba naik pesawat, aku beneran ngerapal banyak doa lho waktu take off sama landing. Tegang beud.
Ā Jadi, kayak yang udah diketahui bersama, tulisan Kak Ika emang enak untuk dinikmati. Metropop yang sangat bisa aku terima (masih nyoba suka genre satu ini soalnya). Bahasanya lincah. Tutur kata yang seru. Kadang lucu, kadang tegas. Juga lihainya dalam ngebangun suasana rumah tangga biar yang baca bisa ngerasain apa yang dirasa tokoh-tokohnya. Walo sebagai pembaca aku gak pernah (dan jangan pernah ya) ada di situasi yang dialami Ale dan Anya, tapi kok emosi keduanya tuh bisa sampe banget. Bahkan pengen ikutan nangis di saat terrendah mereka.
Apa? Ceritanya gimana?
Oke. Ini tentang Ale dan Anya yang pertemuan pertamanya di sebuah penerbangan Jakarta-Sydney. Terus lanjut berhubungan sampai ke jenjang pernikahan. Mereka bahagia? Iya, sangat sangat bahagia. Mereka bener-bener saling jatuh cinta. Masalah timbul saat Anya harus keguguran. Ale nyalahin Anya. Mereka sedih dengan cara sendiri-sendiri. Anya gak pernah ziarah ke makam anaknya, Ale gak pernah masuk ke kamar (yang disiapkan untuk) sang calon bayi. Mereka harus tetap hidup meski terpuruk dalam duka. Ale dan Anya juga harus putusin mau digimanain status mereka dengan rasa cinta yang ada.
Ā Sosok āAleā dalam bayanganku adalah cowok yang tinggi dan berisi, berwajah tegas, bersuara berat dan berwibawa. Lalu setelah tau siapa bakal pemerannya, mau gak mau ekspektasi tadi agak disesuaikan ya.. hhehe. Kalo untuk Anya, gak ada gambaran apapun kecuali perempuan mandiri yang ābikin nolehā. But, hey.. surprise.. duet Reza dan Adinia berhasil membuatku terpukau. Alami aja mereka. Keduanya udah kayak pasangan suami istri beneran. Iyaa.. ada beberapa adegan ehem ehemnya. Tetep okelah.. muahaha. Interaksinya nyata dan natural. Gimana mereka saling mandang, ngobrol (yeeah banyakan bahasa inggris kayak bukunya), atau saat mereka cuma jalan-jalan sambil gandengan tangan. Mantap.
Ā Bisa dibilang filmya terbagi jadi dua bagian.
Paruh pertama Ale Anya ada di masa bahagia. Bisa dibayangin? Satu jam dibuat seneeng terus. Bertaburan cinta, dengan sahabat-sahabat baik yang ceria, dengan keluarga yang harmonis, dengan tempat tinggal menyenangkan. View New Yorknya keren banget ya, anyway.
Trus, paruh kedua adalah sesi sedihnya. Maka, yang muncul ya gak enak semua. Yang nangis, yang kaku, yang kecewa.
Untuk beberapa orang, āpembagianā gini ternyata bisa bikin boring, pengen cepetan kelar. Termasuk buatku juga sih. Soalnya beberapa kali liat jam kok belum ending juga.. hihi. Kayak yang emang mau āmasukinā semua ide di dalam durasi segitu (yang beneran puanjang untuk film lokal). Gak jelek kok, masih wajar. Hanya, maafkanlah penggemar satu ini ngerasa filmnya masih bisa diefektifkan lagi.
Ā Pada akhirnya, aku lebih suka versi novel, karna lebih bisa menjiwai karakter Ale sama Anya. Walopun ya, di novel itu alurnya udah maju mundur melulu, pov nya tuker tukeran, ternyata lebih bisa memudahkan ngerti banyak hubungan dan alasan dibalik setiap pemikiran juga sikap mereka. Lebih banyak juga pendukung cerita yang membuat lebih hidup. Aku berharap peran bapaknya Ale dibuat lebih tegas. Paling suka dengan nasihat sang bapak pas di kebun kopi. Menyentuh sekali. Sosok bapak yang keras tapi perhatian dengan hidup anak dan menantunya.
Ada lagi tokoh Nino, ponakan Ale. Ni anak sebenernya punya aksi penting juga untuk āperdamaianā Ale Anya. Cuma, kurang dimunculkan. Trus lagi, peran Harris. Ngarep banget liat sosok Harris yang ānakalā dalam film, tapi ternyata memang bukan jatah dia untuk eksis disini..
Ā Untuk filmnya sendiri, yang memang harus mengalami sesi tambah kurang dari novel, nilai plus yang dikasih adalah bisa ngedenger soundtrack yang merdu dari Mbak Isyana, selain memang visualnya manjain mata banget. Banyaknya pemeran bintang bikin kita gak perlu banyak waktu untuk meragukan kemampuan aktingnya. Seneng denger kalo penulisnya ikutan nimbrung dalam proses pembuatan film. Ideologinya masih kebawa. Mungkin rumus terbaik dalam adaptasi novel memang kayak gini.
Ā Itu aja sih. Intinya aku sukak bertubi-tubi sama karya ini. Makanya pengen ikutan menyebarluaskan keberadaaan C11 kemanapun aku bisa. Ikutan dibaca ya.. ditonton ya (kalo nanti hadir dilayar kaca)..
Ā Makasiiih..
Ā ({}) :*
Best Regards,
hz^^
Ā ps: Nama calon anak Ale Anya itu Aidan. Selama baca novel, selalu aku ngebacanya dengan āAidanā (a-i-de-a-en). Baru ngeh kalo aku salah baca ya pas nonton filmnya. Seharusnya dibaca āEidenā (e-i-de-e-en).. hehehe