KOHATIku !
Sebelum mengenalnya, aku adalah seorang perempuan yang jarang sekali memikirkan tentang kondisi dimasa depan. Setelah mengenalnya, Aku yang sedikit demi sedikit mulai mengerti apa makna per-empu-an, mulai mengerti beberapa hal tentang per-empu-an. Aku yang sedikit demi sedikit mengerti betapa berharganya seorang perempuan. Aku yang sedikit demi sedikit dekat dengan ilmu. Aku yang sedikit demi sedikit mencari bekal untuk mempersiapkan kedepannya. Aku yang sedikit demi sedikit mulai menguatkan keyakinan untuk melangkahkan kaki menuju yang lebih baik sesuai keilmuan yang kupunya.
Wahai saudariku, Pada tulisan kali ini aku ingin mengajak merenungkan beberapa hal , yakni :
Apakah kita sudah berikan yang terbaik ketika sebagai putri dari kedua orangtua kita ?
Apakah kita sudah mempunyai bekal ketika nanti dimasa yag akan datang kita telah menjadi istri dari seorang suami ?
Apakah kita sudah mempunyai bekal ketika nanti dimasa yang akan datang kita telah menjadi ibu dari anak-anak kita ?
Apakah kita sudah mempunyai bekal ketika nanti menjadi anggota masyarakat ?
Yah, beberapa pertanyaan itu yang sampai sekarang menjadi motivasiku untuk selalu meng-upgrade diri. Kalau tidak dipersiapkan sekarang, mau kapan lagi ? Ada hadist yang isinya begini :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan wanita adalah penanggung jawab di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban.” (HR Bukhari Muslim)
Terus bagaimana sikap kita ketika beberapa ilmu mengarahkan tentang peran perempuan yang sangat penting? Ada syair arab juga yang mengatakan seperti ini :
"Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik (berakhlakul karimah) maka negaranya baik dan bila perempuan rusak (amoral) maka rusaklah negara itu."
Dalam rangka memaknai peran strategis tersebut, perempuan dituntut untuk menguasai ilmu agama, iptek serta keterampilan yg tinggi, dengan senantiasa menyadari FITRAHnya.
Mulailah dari sekarang memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas.
Dari rahim kitalah, nanti lahir penerus bangsa.
Dari didikan kitalah, penerus bangsa itu baik/buruk.
Dari dukungan & pelayanan kitalah , suami menjadi seorang imam yg baik.
Terimakasih untuk KOHATIku, aku diberikan kesempatan mengenalmu dan mulai mempersiapkan hal-hal yang menurutku dulu nggak penting.












