Muhasabah #H-25
Syndrom "gifted student"? Basi (!) ---------------------------- Salah satu keuntungan berkuliah di luar kota, apalagi kampus sebesar ITS adalah makin banyaknya kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang keren. hha Kalau misalnya dulu waktu SD sampai SMA sekolah di daerah sendiri kita bisa selalu jadi yg terbaik (atau mempér tiga besar) mungkin akan beda ceritanya kalau kita sudah berada di kampus yg notabene siswanya datang dari berbagai macam kota di indonesia. Saking banyaknya orang pintar baik secara akademis dan organisasi, dulu waktu masih maba kadang saya suka curiga, jangan-jangan nih orang yg masuk kampus ini memang dulunya jawara pas SMA :D Dalam dunia parenting, saya pernah membaca bahwa penting sekali bagi orang tua untuk memberikan apresiasi dan pujian pada anak dalam hal apapun saat beraktivitas. Menurut saya hal tersebut bagus sekali karena memang pujian dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kepercayaan dirinya, tapi... Ada satu hal lain yg setidaknya harus diwaspadai, kadang pujian yg tidak seimbang juga bisa membuat seorang anak tidak siap kalah. Maksudnya.. seseorang yg sering dipuji akan secara naluri untuk kembali ingin dipuji. Apalagi jika si anak tersebut punya sedikit kelebihan, selalu juara di kelas misalnya, akan sangat manusiawi kalau si anak akan berusaha mempertahankan posisinya. Saya sendiri menyebut kecenderungan tersebut dengan sebutan syndrom "gifted student", syndrom GS. Kali ini saya akan mengambil contoh diri saya sendiri, berharap bahwa cerita saya ini bisa membuat siapapun yg membaca bisa ikutan waspada atau bahkan jadi flashback cerita diri kalian sendiri, bernostalgian. hha Sejak SD hingga SMA kelas 1 saya belum pernah bergeser dari peringkat pertama di kelas. Meskipun saya beruntung punya orangtua yg jarang mengungkapkan pujian secara langsung, akan tetapi saya masih tidak bisa menghindar dari guru dan juga teman-teman yg selalu "melabeli" saya sbagai si juara kelas, kutu buku, muka-muka perpustakaan, dll :( Tapi, smua berubah ketika negara api menyerang. #apasih Tapi, semua berubah setelah saya masuk kelas dua SMA. Saya yg tiba2 "dijerumuskan" dalam satu kelas yg penuh dengan atlit (mayoritas basket), serasa tertampar oleh prinsip hidup yg kebanyakan dianut oleh teman-teman saya di kelas. Terlalu sering menjadi juara kelas kadang bisa membuat seseorang tidak bisa membedakan antara semangat dan ambisi. Padahal, menjadi juara tidak bisa dijadikan tujuan, bukan suatu rutinitas yg harus dijalani bahkan oleh orang paling bertalenta sekalipun ! Dalam konteks belajar, syndrom "gifted student" seperti yg saya tulis tadi bisa berbahaya. Syndrom "gifted student" bisa membuat seseorang tidak peka, takut mengambil resiko, dan malas mencoba hal-hal baru. Kalau syndron tersebut akut, atau bahkan berlarut-larut terbawa sampai kuliah atau di dunia kerja, bahaya banget kan ya? Bisa stress lho buat orang yg tidak siap, terlalu lama bernostalgia dengan kejayaan di masa lalu, padahal bukan doi seorang didunia ini yg terus berproses untuk menjadi yg terbaik :v Balik lagi ke cerita saya waktu SMA. Jadi pas kelas dua SMA itu, saya mulai sadar kalau sudah kena syndrom GS. Saya justru banyak belajar dari teman-teman yang kebanyakan para atlit tersebut. Saya belajar bahwa dalam suatu pertandingan, bukan soal kita akan menang atau kalah, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kita berkomitmen bertanding sampai akhir dan bermain habis-habisan (ini konteksnya saat main di lapangan). Kalau sudah punya prinsip begitu, sudah tidak jadi masalah lagi siapa yg akan kita hadapi saat bertanding. Pelajaran semasa SMA tersebut melekat sampai saya kuliah. Kekhawatiran untuk tidak menjadi yg terbaik dikelas? Basi. hha Sejujurnya saya pun pernah nyobain rasanya sekali dapat nilai D dan mengulang di salah satu matakuliah #tsah Dengan sistem penilaian yg terkadang masih menggunakan subjektif pengajar, kita terkadang tidak bisa menuntut dan bilang ke dosen kalau kita selalu mngerjakan tugas dsb dan meminta agar nilai yg kita dapatkan di transkrip sebanding dengan yang kita usahakan. Bisa jadi kita paham benar di suatu mata kuliah tapi masih dapat nilai biasa-biasa saja. hha #takdir Kalau kita memandang sesuatu dari penilaian yang akan kita dapatkan maka kita berarti juga harus siap-siap merasa kecewa. Kalau saya boleh jujur, menurut saya yg paling harus kita nikmati saat kuliah adalah setiap detik dan proses yg kita lewati saat belajar. Bagaimana kita menikmati saat-saar belajar dengan teman, saat-saat diomeli dosen di kelas, saat-saat harus begadang buat UAS, atau bahkan kita juga harus menikmati momen saat kita harus ngirit duit agar cukup buat kebutuhan sampai akhir bulan :') Bisa menulis sepanjang ini apakah berarti saya sudah berhasil melewati semua dan merasa sudah berpengalaman? Tentu saja enggak. Bagaimanapun, setiap orang punya proses hidup masing-masing. Mau terus berproses untuk jadi pribadi yg lebih baik, apa lagi yang harus ditunggu? :)












