Wah, ini pertanyaan yang sulit. Saya menyukai keduanya. Bahkan, salah satu mimpi saya adalah menjadi penulis. Penulis buku. Dan itu tidak terbatas hanya novel atau sastra saja 'kan? Komik juga termasuk buku. Kumpulan ilustrasi juga sering kita temui dalam bentuk buku. Keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan saya selama hampir 19 tahun ini. Bermula dari mengarang tak tentu ditemani buku bergambar, saya sadari, menulis adalah salah satu passion saya. Bermula dari gambar hangman yang saya yakini sebagai gambar Sailor Moon--tokoh kartun favorit dulu kala, saya akui, menggambar adalah salah satu elemen seorang Pia. Karangan pertama yang saya buat dulu adalah karangan yang niatnya narasi tapi berakhir persuasif, lengkap dengan gambarnya. Ceritanya tentang seorang anak yang ingin bisa menari balet, tapi tidak ada yang bisa mengajarkan. Karangan ditutup dengan betapa seharusnya orang tua harus bisa mendukung keinginan si anak untuk bisa belajar balet. Lucu sekali, karena karangan bergambar itu lahir dari saya yang masih TK. Karangan itu sendiri terinspirasi dari inginnya saya belajar balet, tapi tidak kesampaian. (Saat itu, saya suka sekali cerita tentang putri yang bisa balet, makanya saya ingin sekali belajar tarian itu. Sayangnya, di Palembang dulu sepi sekali. Bahkan untuk sanggar pelatihan tari seperti ini sulit ditemukan, bahkan nyaris tidak ada). Waktu SD lain lagi. Saya sempat membuat cerita serial yang berjudul "Sasha", yang ditulis dalam buku tulis biasa yang sampulnya bertuliskan Sasha dari asalnya. Ceritanya tentang anak SD yang ceria, yang namanya Sasha. Sayang, cerita tidak pernah selesai. Kadang, memperhatikan anak-anak SD yang semangat ngomik walau hanya berbekal kertas A4 atau F4 yang dibagi dua plus pensil 2B/pena pilot sungguh membuat saya kembali ke masa saya masih terbuai dalam dunia komik. Rasa-rasanya, tiap hari pasti ada inspirasi untuk cerita baru. Dulu, saya aktif membuat komik, bersama teman sekelas yang juga punya judul komik sendiri. Kertas printer ukuran F4 di ruang kerja papa pun jadi korban. Tak heran, saya sering dimarahi karena buang-buang kertas printer yang dulu harganya mahal. Kadang kala, saya sisihkan uang jajan untuk membeli beberapa lembar kertas untuk dijadikan komik. Pernah juga, aku dan teman-teman sekelas waktu SD berkumpul dan membuat majalah komik bulanan yang kemudian dijual ke anak-anak lain. Senang rasanya melihat karya sendiri dilihat orang. Melihat keadaan sekarang, agak sulit rasanya menulis sebuah cerita. Tak sebebas dulu, tak seliar dulu. Imajinasi saya kadang bisa keluar tak tentu arah, kadang juga mampet. Padahal, melihat sekarang, dengan banyaknya media yang memudahkan, seharusnya inspirasi bisa datang darimana saja. Bahkan dari kehidupan sekarang pun, seharusnya bisa. Yah, cerita tiap harinya memang sudah banyak. Tapi menyatukannya? waktu dan keberanian, terutama agar tak tercampur dengan realita yang pahit.