Sungguh, yang berat bukanlah rindu. Tapi ketika kebersamaan justru membuat hati menjauh dari Allah.
Fasih Radiana (@fasihrdn)
seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from United States

seen from Romania
seen from United States
seen from Argentina
seen from Brazil
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Venezuela
seen from Brazil

seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Germany
seen from France
seen from United States
Sungguh, yang berat bukanlah rindu. Tapi ketika kebersamaan justru membuat hati menjauh dari Allah.
Fasih Radiana (@fasihrdn)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dulu kita masih remaja
Usia anak SMA
Di sekolah kita berjumpa
Pulang pasti kita berdua
Dan kini kamu, ada di mana
Dan kini rindu, apa kabarmu
Dan ingin lagi, dan ingin lagi
Jumpa
Lagi ramai tentang film Dilan 1990.
Kamu tau kan? Itu lo film yang diangkat dari novel karya @pidi-baiq 🤗
Filmnya bagus.
Sangat-sangat bagus. Kemaren aku nonton sama salah satu temanku.
Mungkin jika kamu disini, bersamaku, kita akan menyaksikannya bersama.
Aku yakin kamu suka filmnya. Kan kita selalu satu selera..entah kalau rasa.
Januari 2018
Siklus
Kemarin aku bilang, masih banyak pelajaran yang aku dapat dari novel Dilan. Dan kelak aku akan menuliskannya kembali.
Salah satunya ini. Sedikit pembuka nya sdh aku tulis dengan judul : siklus bag 1. Namun tidak kuteruskan. Selain karena pertama, tulisan itu berdasarkan orang2 yg masih ada saat ini, khawatir ada pihak2 yg merasa tidak berkenan olehnya. Kedua, sungguh beku otak ku. Tak sanggup aku meneruskannya
Menulis ini juga karena didorong rasa jengkel tak terkira kepada orang-orang yang sok menghakimi Dilan. mulai dr omongan seperti " bilang pada Dilan yg berat itu bukan cuma rindu tapi bla bla bla" dg berpuluh versi. Atau orang-orang yg setelah menonton film kemudian bilang, "film yg gak mendidik, masa naik motor gak pakai helem" "wah dilan ternyata Syiah ya?" Daaaaaan beribu komentar lain nya...
Helooooo... (Tadinya mau bilang an**it tapi gak jadi karena berpotensi melukai hati)
Maksudku adalah, ini adalah cerita anak remaja tahun 90an gituloh. Kita seharusnya menempatkan sesuatu secara proporsional. Emang Ali topan anak jalanan tahun 70an pakai helm? Buta sejarah kalau saya bilang. Diluar konteks. Kacamata anda menilai, aku rasa tidak tepat untuk kasus ini. Terlalu gegabah. Atau saya berani jamin, anda dulu tidak mengalami apa yang Dilan dan Milea alami. Jadi tidak bisa menghayati cerita ini! (Maaf bukan berati saya bilang itu salah atau menyedihkan, 100% saya tidak menganggap begitu) *Bahkan setelah membaca buku Felix Siauw sudah putuskan saja, rasanya aku akan melarang anak2ku pacaran (tapi sepertinya gak mungkin, kenapanya akan kujelaskan dibelakang)
Maaf, saya agak emosi jiwa. Meskipun sebenarnya sejak dari dulu jiwa saya emosian. Untungnya setelah ikutan pelatihan "bagaimana caranya agar tidak jadi monster" jiwa saya jauh lebih stabil hahaha...
Kembali, sebetulnya saya juga tidak bermaksud mencoba menghakimi anda. Karena pada dasarnya saya adalah orang yg memegang teguh prinsip, satu kepala satu ide, seribu kepala seribu sudut pandang. Bahwa anda berhak bersuara atas pemikiran anda. Tak ada yg bisa membatasi seseorang untuk mempunyai pemikirannya sendiri.
Kembali pada cerita Dilan. Aku hanya bilang, bahwa sebetulnya apa yg dialami dilan adalah siklus yg juga dilalui oleh semua orang. Ada waktunya kita muda kemudian menua.
Aku, dahulu menjalani cerita yang seperti disampaikan. Mungkin lebih lebay dan alay dari itu kalau bahasa sekarang. Asal kau tau saja, aku pernah menulis surat cinta di kertas F4 2 lembar bolak balik. Sinting saja, penuh setiap halaman dengan rapat, aku tak tau apa yg kutulis saat itu hahahaha...(untungnya yg menerima suka hahaha)
Masa pubertas. Masa remaja. Mencari jati diri. Masa-masa yg aku sependapat bilang "perlu dimaklumi".
Dahulu, semua terasa keren. Peduli apa dengan dunia. Bahkan kakak tertuaku suka nyinyir kalau aku sdh jatuh cinta. Bah, anak ingusan bercinta layaknya sudah mau dikawin katanya. Serius sekali kau jatuh cinta ! Begitu dia sering bilang. Karena dulu dia memang Don Juan (gagah dia). Atau kakak ku satu lagi yang suka menasihatiku, jangan terlalu dalam kau bercinta, saat patah hati kau suka seperti orang gila! Pacaran itu untuk putus. Biasa saja jangan dibawa serius.... Esok cari lagi gantinya. Merasa tampan dia (tapi sayangnya benar adanya hahaha)
Aaarrrghhh... Rasanya ingin kulempar mereka dengan gelas yg sedang kupegang. Enak saja mereka bilang seperti itu protesku dalam hati. Macam aku ini kucing kampung yang bisa kawin sama siapa saja yg ditemui di jalan. Beruntung aku anak yg cukup bijaksana sejak dari rahim ibuku. Jadi hal buruk seperti itu tak pernah aku lakukan.
Untungnya, aku masih punya kakak satu lagi yang tak pernah merundung ku dengan kata-kata seperti itu. Tadinya aku pikir dia menyokong ku. Tapi sepertinya tidak juga. Karena dia lebih suka bermain asmara dengan diam diam. Jadi dia tak berani menasihatiku untuk hal begini hahaha...
Satu hal lagi yang paling membekas soal kasmaran ini. Entah kenapa, dulu sering sekali aku dengar kalau ada yg sedang berjalan bergandengan trus suka ada yang teriak "tong daek dibobodo, moal dikawin!" (Artinya, jangan mau dibodohi, nanti juga gak akan dinikahi) Alamaak.... apa-apaan pula orang ini. Mengganggu saja. Biarkanlah. Sungguh tak berperasaan pada kami anak muda yg sedang jatuh cinta. Soal masa depan itu soal nanti. Meskipun kami sering sok dewasa membahasnya. Padahal jajan saja masih minta-minta.
Maka dari itu aku tak pernah berkomentar kalau adikku perempuan satu²nya sudah mulai pacaran. Takut karma berlaku pikirku. Aku hanya menjaga nya supaya dia tidak jadi korban laki2 macam kakak2nya ini. Alhamdulillah dia pandai menjaga diri. (Jangan besar hidung kau Sist kalau aku puji, hidungmu memang sudah besar macam jambu biji hahahaha) Yaaa meskipun ada satu dua hal yg membuat ku geleng2 kepala. Selama masih wajar aku tak pernah menegurnya, biar itu bagian si sulung. Karena tugas dia memang harus begitu sebagai pengganti orang tua .
Dan memang karma berlaku.
Sekarang, aku yang suka melakukannya. Kalau sedang naik motor dengan istriku sering tak bisa ku tahan mulut ini kalau lihat anak bercelana pendek atau celana abu2 berasyik Masyuk. Cih, macam akan dikahwin saja kataku. Dan sejurus kemudian pinggang ku akan berasa panas karena ada yang mencubit dari belakang. Jangan sok usil katanya.
Macam tak pernah muda saja. Atau dilain waktu saat bertemu mereka aku suka nyeletuk, sok lah puas2keun mumpung bobogohan(artinya, puas2in situ mumpung belum nikah), ke mah siah rasakeun Mun geus kawin mikiran meuli beas(nanti kalau rasakan kalau sdh nikah harus mikirin beli beras) .. hahahaha tau2 helmku digetok dari belakang dengan kerasnya.
Atau anak² muda dengan darah panas nya masih suka bergerombol dan sok2 jagoan dan cari perhatian. Begitulah mereka menyalurkan adrenalinnya. Asal bukan tindakan kriminal aku rasa kita masih bisa menerima nya.
Jadi.. bijak-bijaklah menghadapi gerombolan onyet2 ini.(kan katanya kalau mereka cinta nya cinta monyet) karena kita juga pernah jadi onyet. Bukan maksud ku jg membenarkan semua tingkah laku anak muda ini.
Hanya saja aku merasa, kita Tidak bisa melihat mereka dengan serta merta menggunakan referensi kita saat ini. Karena mereka belum seperti kita, yg sudah melalui semuanya.
Ada kalanya kita harus maklum kalau mereka pengen sok jago. Karena kalau sdh ngalamin jadi jagoan nanti juga cape sendiri. Da gelut teh make tanaga. Da mun geus Benjur mah sirah teh da peurih. (Berkelahi jg pakai tenaga, kalau kepala sdh bonyok kan bakal kerasa perih jg)
Biarlah mereka ingin merasakan bebasnya dunia, karena pada saat sudah seperti kita menyadari bahwa kebebasan itu ada harga nya mereka akan sadar dengan sendirinya.
Tugas kita sebagai orang yg sdh duluan menikmati dan melalui itu semua adalah mendampingi mereka. Menjaga mereka dr posisi kita saat ini dengan tepat. Kapan kita harus dekat dan kapan Kita harus menjaga jarak dr mereka.
Aku selalu bersyukur punya Mamah yg menerapkan prinsip bermain layangan saat mendampingi kami anak2nya tumbuh dewasa.
Mengasuh kalian itu seperti bermain layang-layang, katanya suatu hari. Jangan terlalu diulur nanti malah lepas kendali hilang terbawa angin. Jangan pula terlalu kencang ditarik nanti malah melawan angin, bisa putus talinya. Kalaupun kami anak2nya melakukan kebodohan dan kesalahan, ia selalu berpesan : kalian tau yang kalian lakukan, maka kalian harus selalu siap dengan resiko dan konsekuensi yang akan kalian tanggung.
Atau petuah mamah tentang batasan berteman, mamah tidak akan melarang kalian berkawan dengan siapa saja. Berkawan lah dengan sebanyak banyak nya teman. Tanpa pandang bulu. Tapi kamu harus siap, ketika kamu berteman dengan tukang mabok atau tukang ngeganja, meskipun kamu tidak mabok atau ngeganja, tapi kalau lagi apes sampai digerebek polisi ya gak usah cengeng. Harus siap masuk kerangkeng. (Jadi inget maneh cuy hahaha moal bejabeja sahanamah hahaha).
Prinsip ini malah membuat ku lebih bertanggung jawab atas semua tindakanku. Aku seperti merasa diberikan kepercayaan sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya. Agar ia tidak kecewa
Ya, kami bukanlah anak² sucih yang jauh dari dosah. Adakalanya kami juga lepas kendali. Masa muda membawa pelajarannya sendiri. Bukankah lebih baik jadi mantan preman daripada jadi mantan ustad? Kesalahan masa lalu menjadi pelajaran untuk terus mawas diri menatap masa depan.
Akhirul Kalam, Semoga dosa kami adalah untuk kami (semoga Alloh mengampuni) dan tidak menjadi beban bagi mereka kedua orang tua kami. Semoga Allah mengampuni.
Allohumagfirlahu/ha. Alfatihah.
#repost @novrisacha • • • #Dilan #FilmDilan #Dilan1990 #DilanMilea @ganeshapublicspeaking #GaneshaPublicSpeaking #PublicSpeakingBandung #TrainingPublicSpeaking #PublicSpeakingClass #PublicSpeaking #PublicSpeakingCourse #PublicSpeakingSkills #TipsPercayaDiri #confidence #cemburu #bandung #rindudilan #rindubandung (di Ganesha Public Speaking)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Demam. Fever.
Masih tentang demam Dilan:(
Harus apa akuuuuh?:(
Iqbaal, you should know this! Im kinda dying to meet you. I want to meet you haha.
Geleuh ga gelueh gaaa?:( mau kesel kan? Sama!
Ini sekarang kyk gregetan parah sama Iqbaal demi apa coba. Efek gapunya ade. Efek gapunya hmmm.
Jadi aja menggila.
But, i got so many lesson from what I watch, i mean Dilan. Dan.... not only those lesson who scripted in the film, but from all aspect. I speak for Iqbaal yaaa.
Banyak banyaaakkk. Setiap denger yang nyanyi jadi menggilan. Duh kenapa awak niiiii:(
Greget kaliii aku.
As well as those koriyah oppa, i always imagined what will happen to them in years later? When theyre a family man? And also im a proud mama of my childs ofc haha.
I think if that time comes, I will still fangirling over them but in the different way yaaa. Hope this time will cometrue, i'll meet them and take some pict haha.
Jadi macam mamak rempong gituuu.
Tapi tolong, dek Iqbaal ini terbaik loh huhu.
Tolong edit postingan ini beberapa tahun yang akan datang ya fah! Give your honest comment. But, will this post edited with a photo of me and those koriyah oppa atau Iqbaal? Hahah
So geleuh, but......
Jangan ngegombal terus kayak #dilan Gaes. Taati juga aturan lalulintas. Nanti ditangkep Pak @polisi_banyuwangi dan Pak @polisiindonesia looh.. Tetap jaga ketertiban lalulintas ya Gaes. #lalulintas #banyuwangi #polresbanyuwangi #polisi #tilang #lantas #dilanmilea #dilan1990 #dilanku #filmdilan #filmdilan1990 #gombalan #gombalangoceng #rayuangombal #katagombal (di Pemda Banyuwangi)
DILANda Rindu(2018)
Jagat sosmed belakangan dihebohkan dengan kehadiran sosok Dilan yang melegenda. Mulai dari quote, gambar meme, infografis pemerintah(swear) sampai vidio parodi, semua mengusung sosoknya. Dilan bukan youtuber, bukan vlogger, bukan artis tictoc, bukan juga anak yang menampar selingkuhan bapaknya, Dilan juga nggak pengen ke Alfa. Dia cuman tokoh dalam cerita fiksi ciptaan Ayah Pidi Baiq yang pertama kali dikenalkan dalam novel berjudul "Dilan: Dia Dilanku di tahun 1990" yang sekarang sudah diadaptasi menjadi film layar lebar dengan judul Dilan 1990. Jujur aja sebenernya aku kenal*ciee Dilan lama sebelum ia tenar di sosmed.
 Aku uda baca novelnya semenjak kelas 11 kalau nggak awal kelas 12 *gue lupa. Sebenernya cinta-cintaan anak SMA bukan pilihan genre yang kusuka, tapi banyak banget review yg bilang novel ini bagus jadilah aku penasaran. Pas kubaca ternyata bener bagus, kocak dan pastinya bikin baper abis. Dan aku uda baca novelnya sampai yang kedua, yaitu Dilan: Dia Dilanku di tahun 1991. Pas denger kabar kalau novel ini bakal di film in, aku heboh soalnya seingatku dulu Ayah Pidi Baiq pernah nolak. Beberapa bulan kemudian Dilan fix diadaptasi jadi film. Pas castnya diumumin aku little bit shock gitu karena yang jadi pemerannya itu Iqbal. Bukannya gimana gimana ya, Iqbal itu keliatan kalem gitu tapi setelah tau kalau Ayah Pidi Baiq sendiri setuju yaa aku terima aja, yang nulis ceritanya pasti lebih tau lah ya soal karakter si Dilan ini.
Begitu filmnya rilis aku uda nggak sabar pengen nonton karena penasaran dan pengen tau bedanya sama novel. Ternyata pas aku udah nonton alurnya sih sama persis kayak di novel, di salah satu vidio di Youtube Iqbal pernah bilang kalau film ini adalah visualisasi terbaik dari novel. Menurutku film ini mengalir begitu saja, yaa bener bener memvisualisasikan bab bab di novel secara runtut tapi 15 menit pertama aku uda agak bosen gitu nontonnya, aku bingung apa karena aku uda tau jalan cerita ya ya? Apa karena aku jomblo? *woy?emang ada hubungannya? * kalau untuk latar tahun 90an yang dibangun sih aku nggak seberapa bisa bedain soalnya aku belum lahir tahun segitu, yang bikin aku tau film itu settingan jadul adalah penggunaan telepon umum, telepon rumah yang digunakan Milea, desain rumahnya Dilan sama gaya berpakaian tokoh. Aku sering ngamatin film film yang mengusung tema anak sekolahan, kebanyakan sih seragam yang dipakai pada masih kelihatan kinclong putih bersih kan kesannya nggak natural gitu, kalau menurutku. Oke balik lagi ke film Dilan. Menurutku film ini ringan dan cocok dibuat refreshing karena kita tau romansa masa SMA selalu bisa membangkitkan kenangan dan kerinduan akan masa masa paling indah dari sesi kehidupan eaaa. Tapi mungkin yang suka nonton genre misteri, sci-fi, detektif dan sejenisnya bakal bosen sih kalau nonton film ini. Tapi salut banget sama Ayah Pidi Baiq yang bisa bikin Dilan melekat di ingatan siapapun khususnya anak anak muda millenials yang nggak kenal Rangga sama Olga. Gitu aja sih menurutku, kalau kamu?
pict source:Â http://www.provoke-online.com/index.php/film/movietalk/9969-5-funfact-film-dilan-dan-para-pemerannya