MARCUS ANNIUS VERUS lahir di Roma, 121 M, yang lebih dikenal dengan nama Marcus Aurelius Antoninus. Ia berhasil naik takhta kekaisaran pada tahun 161, dan memerintah sampai kematiannya pada tahun 180. Pemerintahannya, dilaksanakan dengan keadilan dan kesederhanaan, Aurelius menghabiskan sebagian besar tahun-tahun terakhirnya dalam tugas berat untuk memimpin pasukan Roma melawan gerombolan barbar.
M. Aurelius dididik oleh orator Fronto, tetapi berubah haluan dari retorika ke studi filsafat Stoa, di mana ia adalah perwakilan terhormat terakhir. “Meditasi”, yang dia tulis dalam bahasa Yunani, adalah ekspresi yang paling penting dari sistem ini, dan menunjukkan dengan baik pada sisi praktisnya. Ajarannya sendiri dia lakukan dengan konsistensi tunggal; dan baik dalam kehidupan publik maupun pribadinya, dia sangat teliti. Dia dan pendahulunya tercatat sebagai satu-satunya kaisar Romawi yang dapat dikatakan telah memerintah dengan satu tujuan untuk kesejahteraan rakyatnya.
“Meditasi” menggambarkan kesetiaan pikiran dan karakter pada Kaisar yang paling mulia ini. Sederhana dalam gaya dan nada yang tulus, tulisan ini merekam sepanjang waktu puncak yang dicapai oleh aspirasi penduduk Roma dalam upaya mereka memecahkan masalah perilaku; dan keselarasan antara praktiknya dengan ajarannya membuktikan bahwa “Bahkan di istana kehidupan dapat dipimpin dengan baik.”
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pada emosional, tidak rasional, gampang dipengaruhin, pengen bahagia tapi mageran, sama rutinitas dan lingkungan toksik betah-betah aja.
Enggak logis blas.
Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash
Kenapa coba ?
Demen sama bajingan yang sama, padahal udah dibikin sakit hati bolak-balik. kerjaanya karbitan, padahal baru setengah mateng tapi udah nyerah. overthinking mikirin hal remeh, nambah-nambahin beban pikiran. engga mau ngeliat peluang, apa-apa skeptis, sedikit-sedikit pesimis, ada masalah sedikit udah kaya jadi orang paling menderita.
Padahal kalo kamu pingin membuat hidup jadi lebih baik, kenapa bersikap kek gitu ?
Emang sih sewaktu belum ‘mau’ ngeliat apa yg bener, belum ‘mau’ usaha gimana yg bener, belum ‘mau’ tau kenapa kok bener. Kita cenderung engga ada kemauan buat merubah kondisi sekarang, nyaman jadi pecundang aja udah, kalo dikatakan secara jujur dan menyakiti perasaan mah.
Engga se simpel dan se enaknya aja gitu ngomong pecundang, sama betah, trus engga ada kemauan, enak aja?
Okeh gampang, tak kasih penjelasan yang lebih masuk akal kalo gitu kenapa kamu secara tidak sadar betah menjadi pribadi yang sakit begitu,
Photo by Chris Brignola on Unsplash
Kelangsungan hidup manusia bergantung sama suatu hukum, yaitu hukum timbal-balik, sebab-akibat, aksi-reaksi, tanam-tuai, dst, dst apa pun terserah kalo ada istilah lainya, intinya setiap kontribusi kita sama apapun akan ada hasilnya.
Nah sekarang coba misalnya kamu udah pernah ngelewatin tantangan kehidupan entah dapat skill atau apapun, akhirnya dapet tuh label (hasil tidak langsung) dianggap mampu, trus kamu kepikiran kalo ditingkatin lagi bisa aja suatu saat bakal ngambil keputusan yang salah atau gagal, label mampu (yg kita udah betah tadi) bakal dipertanyakan, kira-kira gimana reaksinya ?
Ya jadinya akan selama itu juga hidup dalam ke pura-pura an, selama it’s work dan tetep diperhatiin terus, kamu merasa ada tapi sebenarnya palsu, terus aja membohongi diri sendiri terus menerus sampe melekat dan akhirnya jadi mental, jadi keyakinan tepat ketika semua itu udah memburuk.
Tapi ini best version of me yha, padahal cuma ego dan pelestarian identitas aja.
enggak, ini totally benar, dan engga ada waktu maupun kehidupan saya yang terbuang !
Fine, kalo gitu sampe sini aja bacaya :)
OK saya sedikit sadar, ada cara agar saya bisa coba berubah atau cukup memperbaiki keadaan ?
Gud, i’ll tell ya let’s do it ! Pertama-tama kamu harus MATI !
iya tidak literally juga, tapi kamu harus membunuh kepercayaanmu yang sekarang, kepercayaanmu tentang semua yang kamu yakin itu benar bahwa itu semua palsu, kamu ditipu, terus kamu mau meng ulangi semuanya lagi dari awal, ibarat gelas yang sebelumnya keisi air comberan terus kamu tumpahin, dibilas terus ditiriskan sampe bener-bener kosong.
Photo by Valentin Lacoste on Unsplash
Spoiler dan peringatan awal : kamu akan beralih dari jalan rumput ala taman ke jalam berbatu karang nan tajam dan ketika proses itu rasanya engga enak.
Mulai Goyah ?
Coba pikirin lagi, kamu pasti pernah dong ngeliat orang yang seolah tau sama yang mereka lakuin, mereka fokus sama kehidupanya. padahal kamu lihat itu ganjil dan bukan kamu aja yg ngerasain, masa kamu engga kasian, kasus lain deh kalo orang sial yang kita obrolin ini ternyata juga kepala batu, proyeksiin gimana kalo orang ini kamu, harusnya kamu kasian dong.
Pengensih ngerasa, ah kaya gitu toh buktinya hidup-hidup aja, keliatanya baik-baik aja, tapi gabisa pak, kalo tau sesuatu ada yang salah masa masih bisa tenang dan tidak resah ?
Padahal kalo udah sampe di titik ini harusnya kita satu frekuensi loh.
iyanih udah beneran kosong !
oke kalo begitu yuk kita kemon
Prinsipnya sih kaya instal ulang komputer, setelah kita punya pengalaman sama berbagai jenis aplikasi dan data, kita mestinya punya pemahanan mana yang baik, sama mana yang perlu. Setelah di instal ulang kita bakal ngerasa jalanya bakal lebih enteng, sisanya kita instal lagi aplikasi, driver sama data yang sebelumnya udah kompatibel, udah kebukti membawa lebih banyak manfaat. trus file-file sampah yang cuma menuhin memori dan bikin lambat kinerja kita buang jauh jauh, simpel bukan ?
Kongkritnya emang kita juga yang perlu nemu cara terbaiknya, cara yg pas. caranya dengan sebanyak mungkin merasakan pengalaman, memiliki database sebanyak mungkin untuk diproses jadi pemahaman, berenti jadi sok tau, banyakin nanya meskipun itu anoying, layanin diri sendiri soalnya itu juga bentuk cinta ketika kita menikmati proses, ketimbang orientasi tujuan yang sering malah eksploitasi diri sendiri jadi semacam alat.
Nah, semakin dekat kamu dengan kekuatan, selera, dan kecenderungan 'ini kerasa bener’, semakin baik. Sisanya tinggal ngejaga api motivasi ini jangan sampe mati.
Selain menemukan dan mengerjakan proses tadi. Kunci sukses juga datang dari rasa sakit yang bikin kapok dan yang benar-benar sulit dilupakan dan kemudian akhirnya membuat peralihan mental.
Bukankah, rasa sakit yang sesungguhnya dapat menyebabkan peralihan, istilah kerennya titik nadir, atau kultimasi terus bikin puter balik.
Yang terbaik yang dapat kamu lakukan adalah mencoba membuat kesadaran yang nyata bahwa, dalam banyak hal, Kamu membuang waktu dan masa hidup. Sadarlah ini engga sedramatis dan sememalukan itu kalo emang pernah hilaf dan apes. Toh ada kemauan bangkit, di sisi lain jadi punya pengalaman.
Ketika kamu mengikuti jalan yang jarang dilalui, Kamu mendapat sesuatu yang bisa dirasakan jauh lebih baik daripada yang bisa dijelaskan, tapi tak coba kasih sedikit gambaranya.
Kamu merasa seperti memiliki pemahaman yang kebanyakan orang tidak bisa pake buat merealisasikan keinginan mereka dalam kenyataan, tetapi kamu bisa.
Kamu juga merasa memiliki rahasia yang hanya sedikit orang yang bisa mengerti.
Dan kamu akhirnya merasakan tingkat kebanggaan yang mendalam karena kamu tidak sepenuhnya mengecewakan dan menyiakan kehidupan.
Harusnya sih engga ada perasaan yang lebih baik dari itu.
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
Disadur, diterjemahkan dan disederhanakan dari sumber aslinya : disini
Ego kita bisa menghalangi kesuksesan kita, sangat dan selalu.
Ego memiliki banyak bentuk, tetapi pada dasarnya adalah efek bias pada pemahaman kita. Karena ketika ego yang bertanggung jawab (otomatis menjadikan kita egois) koneksi langsung, jujur dan fokus kita ke dunia nyata akhirnya teralihkan.
Pada konsepnya ego merupakan kesatuan dari struktur Tritunggal yang terdiri dari id, ego, dan super-ego.
Id beroperasi pada keinginan naluriah: kesenangan dan kelangsungan hidup. Ia ingin makan, tidur, dan berhubungan seks - menerima bantuan, dan kepentingan yang harus dilaksanakan sekarang juga.
Super-ego berhubungan dengan kesadaran moral, aspirasi, dan kesadaran kita tentang diri kita sebagai bagian dari masyarakat. Ia bertanya, "Seberapa yakin saya bahwa saya benar?" Atau, "Apakah saya kasar?" Serta "Haruskah aku memberitahunya bahwa dia memberi saya terlalu banyak perubahan?"
Ego menengahi di antara keduanya sebagai sistem operasi untuk kenyataan, dengan id dan super-ego memengaruhi keputusannya seperti iblis dan malaikat metaforis di pundak kita.
Masalah muncul bukan dari ego itu sendiri, tetapi dari ketegangan antara ego tersebut dengan id dan super-ego yang saling bernegosiasi. Pertempuran batin yang terus-menerus ini mendominasi seluruh hidup kita, membagi kehidupan menjadi tiga mode, serta mencakup semua waktu yang kita habiskan: aspirasi, kesuksesan, dan kegagalan.
Dalam segitiga tanpa akhir ini. Kita selalu menang, kalah, atau belajar dari kesalahan maupun pengalaman.
Salah satu ciri khas kehidupan sosial adalah bahwa sebagian besar orang yang kita temui tampak sangat normal. Mereka sering tampak bertanggung jawab dan logis, menyembunyikan sedikit kebencian atau paksaan terhadap diri sendiri, dan menganggap kami ceria dan lebih atau kurang puas dengan pasangan dan kehidupan mereka.
Ini bisa terasa sangat dan sangat bertentangan dengan apa yang kita ketahui tentang hidup dari pikiran kita sendiri. Melampaui usia tertentu, begitu kita hidup sedikit di dalam diri kita sendiri, kita cenderung berkenalan dengan berbagai sisi yang sangat mengkhawatirkan dan disesalkan pada karakter kita: kita mengenali tingkat kebingungan, paksaan, kelesuan seksual, ketidaksetiaan, kekejaman, rasa tidak aman kita. dan kekhasan.
Kesenjangan antara pengetahuan yang kita miliki tentang diri kita sendiri dan bukti publik tentang sifat orang lain dapat menjadi sangat membingungkan dan menyakitkan. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa kita berakhir sangat aneh, kehidupan kita sangat sulit, karakter kita sangat bengkok.
Perasaan terisolasi kita tidak pernah lebih besar daripada ketika kita bertemu pasukan, didistribusikan secara luas melalui masyarakat, dari orang-orang yang berpikiran tertutup. Penuh dengan niat baik yang luas, tipe-tipe ini tetap memperhatikan tanda-tanda dari aspek-aspek sifat manusia yang lebih disesalkan dan siap menyensor penampilan mereka sejak awal. Kita belajar untuk mengenali ketidaksetujuan mereka dan untuk menjaga sisi bayangan kita khususnya pribadi di sekitarnya - yang melindungi reputasi kita, tetapi meningkatkan rasa isolasi aneh yang mendasarinya.
Sebaliknya, ada orang-orang langka yang tampaknya mampu mengambil sebagian besar dari apa yang sepenuhnya kita terima sejak awal - dan yang dengan penuh syukur kita hormati dengan istilah berpikiran terbuka. Tanpa kejutan atau keributan tertentu, mereka berasumsi dari yang pertama bahwa menjadi manusia adalah bisnis yang berantakan dan tidak murni dan bahwa setiap orang yang mungkin mereka temui akan mengandung sejumlah dimensi yang kurang dari ideal dan pada titik tertentu benar-benar sangat dekat dengan kegilaan. Mereka tahu, hanya atas dasar keanggotaan Anda dalam umat manusia, bahwa Anda telah memikirkan dan melakukan berbagai hal yang liar, tidak etis, dan kadang-kadang menyedihkan. Mereka tidak tahu detailnya, tetapi mereka dengan benar menganggap bentuk luas masalah ini. Mereka dengan tenang menerima celah antara bagaimana seseorang muncul dan apa yang mungkin mereka sukai secara pribadi. Bagi mereka, seseorang yang tampak normal hanyalah seseorang yang belum mereka kenal dengan baik.
Orang yang berpikiran terbuka tidak takut dengan apa yang ada di dalam jiwa manusia karena dua alasan: pertama, karena mereka yakin bahwa di hampir setiap orang ada kesenjangan besar dan aman antara perasaan dan tindakan. Mereka memahami bahwa sebagian besar dari apa yang kita berfantasi tidak akan pernah dimainkan dalam kenyataan dan oleh karena itu tidak menimbulkan ancaman aktif terhadap diri kita atau tatanan sosial. Kami mungkin menghabiskan banyak waktu untuk menghibur apa yang akan kami katakan kepada musuh-musuh kami, bagaimana kami akan menyerah pada semua hal dan semua orang (dan dunia akan menyesal), dan menyusun skenario seksual yang mengerikan yang bertentangan dengan setiap dikte yang beradab. Tapi, seperti yang diketahui orang yang berpikiran terbuka, berfantasi bukanlah awal untuk bertindak, itu adalah alternatif untuk itu. Jadi pikiran aneh kita dapat dilihat, didiskusikan dan kadang-kadang ditertawakan - dalam pengetahuan yang aman bahwa mereka pada akhirnya akan dengan aman dimasukkan kembali ke dalam kotak. Dan terlebih lagi, pemeriksaan seperti itu tidak akan memperburuk mereka, itu akan membantu menahan dan mensterilkan mereka.
Orang yang berpikiran terbuka juga tahu bahwa keberadaan unsur-unsur yang sangat menyusahkan tidak menghalangi kehadiran simultan zona besar kebaikan, kerendahan hati, dan kebajikan dalam karakter kita. Mereka secara implisit menyukai perbedaan itu, yang dirumuskan oleh para pemikir Kristen mula-mula, antara 'orang berdosa' dan 'dosa', dan seperti Santo Agustinus, mereka berusaha untuk 'mencintai orang berdosa tetapi membenci dosa'. Mereka tahu bahwa hak seseorang untuk beramal, perhatian, dan persahabatan tidak boleh hilang tanpa alasan berdasarkan sisi gelap kita. Sambil berharap mungkin sebaliknya, orang yang berpikiran terbuka menerima begitu saja bahwa orang baik selalu melakukan dan berpikir bukan hal yang sangat baik.
Orang yang berpikiran terbuka tidak hanya bersikap manis dalam menerima ini dengan tenang sebagai suatu pemberian - dan karena itu tidak menghakimi dengan keras ketika berita tentang kesalahan muncul. Mereka berkomitmen untuk berpikiran terbuka karena mereka beroperasi dengan gambaran bagaimana orang meningkat. Mereka secara implisit mengusulkan bahwa cara kita berubah adalah melalui pengampunan hangat, bukan celaan dingin.
Orang yang berpikiran tertutup juga berkomitmen untuk perbaikan, tetapi filosofi pendidikan mereka melibatkan penghinaan dan ketidaksetujuan. Hanya jika seseorang dapat cukup dibenci, mereka beralasan, mereka dapat diandalkan untuk mulai ingin mengubah cara mereka.
Masalahnya bukan hanya bahwa pembinaan penghinaan diri ini kadang-kadang bisa sangat kejam; juga (lebih serius) bertanggung jawab untuk menjadi sangat tidak efektif. Rasa jijik pada diri sendiri cenderung buruk untuk menguras kehendak dan membuat kita putus asa dan tidak mampu sebelum kehancurannya. Dalam menghadapi itu, kita dapat mencari perlindungan dalam kejahatan kita untuk menghindari ketidaksukaan kita yang kejam terhadap diri kita sendiri dan karakteristik kita yang kurang mengagumkan. Dengan sudut bibir mereka dan saat-saat hening mereka, tindakan yang tertutup itu bertindak sebagai agen proaktif dari kesepian yang kontra-produktif. Mereka menciptakan dunia di mana bagian-bagian penting dari diri kita harus tetap menjadi tunawisma dan tanpa jalan menuju penebusan.
Orang yang berpikiran terbuka tahu bahwa kebanyakan orang sudah penuh dengan kritik diri. Kami tidak membutuhkan kecaman lebih lanjut dan lebih keras. Di mana kita benar-benar membutuhkan bantuan adalah menyukai diri kita sendiri untuk berani berkembang, mengingat apa yang kita ketahui tentang wilayah keji dari jiwa kita. Dengan penerimaan mereka terhadap elemen-elemen asing dari siapa kita, tanpa digoyahkan, mendorong kita untuk menjadi lebih baik, model yang berpikiran terbuka bagi kita tentang hubungan yang secara ideal kita miliki dengan diri kita sendiri ketika kita berusaha untuk mendorong bagian yang lebih mulia dari sifat kita dan mengatasi yang paling lemah. . Mudah untuk melihat mengapa kita sangat menginginkan mereka sebagai teman.
sumber : https://www.theschooloflife.com/thebookoflife/how-to-be-open-minded/
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ada sebuah nasehat yang datang dari sebuah pengalaman.
Terkadang ini merupakan sebuah cambuk yang tajam serta membekas awet di dalam pikiran, ibarat tato yang dibuat di atas kepala sekalipun rambutnya tumbuh dan tanda gambar bekas ketokan tinta dari si tukang tato tertutup akan tetapi gambar yang telah di ukir akan selalu menempel.
Pelajaran ini terasa begitu bermakna bila kita mengaplikasikan arahan pemikiran dari hasil penggabaran yang tertafakuri dengan landasan pengalaman pahit juga buruk dari sebuah kejadian kejadian itu.
Tato yang telah terukir di atas batok kepala yang kemudian rambut nya tumbuh sekalipun. tatonya masih ada.
Akan sayang sekali dan percuma serta tiada berguna bila tidak di gundul atau di nampakan tato itu, seperti pelajaran yang ditempuh dari pengalaman dan memberikan ukiran yang membekas dalam pikiran, bahkan terkadang masuk kedalam hati bila hanya kita sadar bahwasanya semua hal-hal yang kita ketahui ini salah “ini itu harus seperti ini” akan percuma dan sia sia bila kita hanya memendam di dalam pikiran saja.
Pelajaran yang begitu sangat berharga dari sebuah pengalaman tak sekali terkadang sangat menguras tenaga pikiran uang bahkan hati, gengsi dan malu melangkah lebih baik dan mengarah dari hasil pemikiran dari pengalaman itu menuju sebuah perubahan dari pemikiran itu.
Sudah saatnya rambut kita digundul dan sudah saatnya lukisan tato di atas kepala itu di tujukan.
ini bukan hal menjukan tato yang tertutup oleh rambut, ini permasalahan bahwasanya kesadaran diri akan hal yang salah dan baik itu tersirat.
Tapi berbagai cara selalu kita tutupi dan kita acuhkan bahkan yang lebih buruk kita selalu membodohi dirikita bahwasanya kita tau hal yang baik tapi kita senang dan bahagia dalam posisi diri kita dalam keadaan tertutup dari kebenaran.
Sejernih air mengalir dari hulu menuju muara bagai titik yang menjadi bitmap dalam seni melukis dari meja corelDraw.
Semua orang mencoba ber-aksi menuju yang pasti, dalam benak sel, dalam tempurung batok, semua pendidikan, semua emplementasi, sebuah apresiasi menuju perubahan lebih baik terus digapai. Sayang seribu sayang perjuangan yang dilakukan terkadang lupa akan tetangga, sebuah pemikiran, akan pernik yang diabaikan menjadi sebuah kegalauan ketika kita mengingat sesuatu yang kita tinggalkan, langkah tampa batas terkadang membuat kita lupa sebuah hal terkecil, jangan disepelekan karena yang kecil adalah bahan hal terbesar! yang perlu kita juangkan. obsesi terus menerobos pintu kemampuan menggapai akan sebuah pelajaran yang terus tanpa henti membuat kita selalu resah akan tanggungjawab dibelakang yang kita abaikan, serta celotehan tetangga sesama.
Seperti opini latah disamping kiri pojok atas ( latah lantas bangga ), pejuang negeri dan otak - otak sang pemuda lagi pilek, membuat negara ini dimanjakan dengan demam yang menutupi sebuah keharusan kita untuk berpikir rasional menuju manusia yang jernih dan bergerak kearah kemerdekaan sejati.
Negeri ini sedang kehausan oleh para penggerak kawan, Sejak mereka datang berbondong - bondong dari barat sana membawa sebuah pengetahauan dan mengenalkan sebuah ajaran Alhikmah, Alkitab & Annubuwah.
Mereka secara serta merta bukan hanya sebuah obsesi memperluas suatu tali persaudaraan, mereka berjuang dalam penyelamatan, dari keadaan tidak tahu apa - apa menjadi jelas akan melihat diri sendiri, orang - orang yang mereka tolong merupakan orang yang sangat - sangat mendapatkan anugerah yang begitu terasa, terasa bahwa merdeka itu mendapatkan kemerdekaan dalam batin - kemerdekaan sejati dalam hati, sedikitpun mereka enggan terjajah oleh nafsu.
Apalagi tersirat oleh rasa pilek.Sejernih air mengalir dari hulu menuju muara bagai titik yang menjadi bitmap dalam seni melukis dari meja corelDraw semua orang mencoba ber-aksi menuju yang pasti dalam benak sel dalam tempurung batok, semua pendidikan semua emplementasi sebuah apresiasi menuju perubahan lebih baik terus digapai.
Sesuatu penggapaian yang terus di perjuangkan tanpa batas ataupun sekat bahkan jalan yang menjadi pembatas ini menjadikan engkau seseorang yang begitu lupadiri, lupa raga, lupa tujuan, lupa segalanya mata hanya mengarah pada satu pandangan pintu semu yang terpandang lalu terus menerobos dan terus melangkah menuju pintu yang selanjutnya kegelapan yang akan dirasakan pebuatan yang akam nemjadikan pembodohan, semakin terus ia melangkah terasa ia semakin baik dan meraih kesuksesan sesungguhnya dari pintu satu menuju pintu selanjutnya itu merupakan pintu sebuah kesepintan dalam dunianya bahasa mereka mengatakan dada yang sempit. Dari sebuah hal hal yang membuat resah takut akan suatu kehilangan, kegagalan, siul nyaring tetangga.ada sebuah perkataan yang terlontar dari mulut salah seorang tetangga,
kita itu harus memikirkan hari esok,
jangan berpikir besok kita gimana bahkan terserah hari esok.
jangan sesekali kita ikut jempol kaki yang melangkah didepan,
tapi angkatlah jempol kaki kedepan,
jangan ingin tunduk sama jempol kaki,
tapi tundukanlah jempol kaki kita sama hasil dari sebuah kebaikan yang kita rencanakan untuk hari esok.
para tetangga terus bercerita tentang hari ini dan kemarin merupakan sesuatu butiran penyempitan dunia yang bilamana kita menyadari kita akan bertemu sesuatu bumi kedua yang begitu lebih luas cukupkan saja hari kemarin menjadi cermin.
Sayang seribu sayang perjuangan yang dilakukan terkadang lupa tetangga sebuah pemikiran, pernik yang diabaikan menjadi sebuah kegalauwan ketika kita mengingat sesuatu yang kita tinggalkan, begitupun ketika tetangga sadar berapa kata yang dibahas tentang pemikiran itu yang seharusnya menjadi sebuah pembelajaran dari sejarah sebagai tolak ukur, cermin, akan tetapi iya lupa akan tetangga yang seharusnya dirawat.
Langkah tanpa batas terkadang membuat kita lupa sebuah hal terkecil, bahan hal terbesar! yang perlu kita perjuangkan.
Obsesi terus menerobos pintu kemampuan menggapai akan sebuah pelajaran yang terus tanpa henti membuat kita selalu resah akan tanggungjawab dibelakang yang kita abaikan, serta celotehan tetangga sesama.
Rasa capek dan lemas menjadi bumbu teks di malam ini, kesadaran sebagai hamba yang harus menjadi lebih baik dan terus belajar menjadi inti topik yang perlu di bakar lalu dihisap dahulu.
semua ini kita akan merasakan sebuah kesadaran betapa nikmatnya hidup ini, bilamana didasari hati yang sadar sebagai hamba yang memiliki Tuhan (sebagai isi) yang begitu dekat dan rasa syukur dengan iklas, setelah tiga kali sruputan dari cangkir kopipun kini telah tersedia menjadi nikmat dan lebih nikmat, semua hal yang tertulis tersebut dirasakan dalam tubuh sesuai dengan porsinya.
“semua hal yang menjadi topik dari inti teks isi ini sesungguhnya kita sadar hanya diri kita yang bisa berkata dan menggerakan kesadaran mendasar sebagai manusia ini perlunya tersirat bukan hanya saja tersurat.”