9 Dhulhijjah 1440 H, 12.00
Terik mentari siang itu membuatku berdiam diri di tenda. Sembari lisan ini terus berzikir, beristighfar, menyambut saat-saat matahari tergelincir. Sekali tempo menengok keluar, melihat barangkali akan ada awan mendung yang menyelimuti, namun tak nampak adanya tanda-tanda.
Jahe hangat dan tolak angin menjadi teman setia. Sembari ku berdoa, agar suara ini tetap terjaga. Ada derai air mata yang tertahan, yang tak jarang tumpah begitu saja. Di perjalanan ini, aku mengajukan diri menjadi muadzin saat shalat di Maktab kali pretama, kepada ketua rombongan, Muhammed, dan Syaikh Khalid. Alhamdulillah mereka mempercayaiku hingga perjalanan ini nanti usai.
Memoriku kembali ke belasan tahun silam, saat masih kecil, betapa dahulu kakek (saya memanggilnya Abah), selalu menyuruhku untuk azan di surau (langgar) kecil yang dibangun oleh leluhur beliau (buyut saya). Surau Jambuwok, Trowulan, Mojokerto, menjadi saksi bagaimana saat itu suara cempreng sosok Faiz kecil bersahut-sahutan setiap shalat lima waktu dengan langgar-langgar yang lain. Ah, kini beliau telah berpulang ke rahmatullah. Abah, saksikan hari ini aku akan mengumandangkan azan, dan aku bersaksi bahwa engkau lah yang dulu senantiasa men-encourage ku untuk mengumandangkan adzan.
Lalu memori ini kembali teringat saat SD dulu, di MIN I Malang. Ustadz Mansyur, salah seorang guruku yang memang terkenal dengan suara beliau yang merdu mengadakan pelatihan adzan untuk murid-muridnya yang berminat. Di luar jam sekolah. Aku pun mengikutinya, walau suara juga nggak merdu-merdu amat, setidaknya aku mengisi waktu luang.
Hingga tanpa terasa belasan tahun kemudian, langkah kaki ini akhirnya menjejak di Bumi Eropa, Swedia. Islamic Center Lund, tak pernah berekspektasi pada akhirnya dipercaya menjadi Muadzin di sini. Saat kali pertama mengumandangkan azan di sini, air mataku menetes begitu saja. Tak pernah ada dalam bayangan bahwa keberkahan dari mematuhi suruhan Abah dahulu di Langgar Mojokerto, kini suara ini berkumdang di Bumi Eropa.
Kemudian tibalah hari itu, di mana pada akhirnya, doa yang pertama kali terpanjatkan 2007 silam, selepas papa dan mama pulang dari ibadah haji, pada akhirnya Allah ijabah di tahun 2019. Masih teringat pesan papa pada waktu itu bahwa ibadah haji adalah ibadah fisik, maka sebaiknya jika memungkinkan dan Allah izinkan, lakukanlah di usia muda. Maka sejak saat itulah, diri ini senantiasa berdoa agar Allah izinkan mengunjungi baitullah di usia muda, sebelum usia 30 tahun.
5 Dhulhijjah 1440 H, di musholla maktab Hotel Qasr Al-Azhar, saat waktu ashar, aku pun mengajukan diri sebagai muadzin. Tanganku memegang mic, jiwaku bergetar, dan air mataku tertahan. Sepanjang azan, ada tangis yang tertahan, dan pecahlah sudah pasca aku menyelesaikan azan pertamaku di Makkah. Teringat sebuah hadis disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Muadzin diampuni sejauh jangkauan adzannya. Seluruh benda yang basah maupun yang kering yang mendengar adzannya memohonkan ampunan untuknya” (HR. Ahmad)
Beberapa orang menghampiriku dan berterima kasih atas azan yang aku kumandangkan. “Thank You Faiz, for making beautiful azan”. Seorang jamaah haji asal Somalia tak kuasa menahan air matanya, dan memelukku. Aku pun terharu, dan memohonkan doa untuknya, serta tentu saja untuk almarhum Abah, kakekku tercinta.
Hingga tibalah hari itu. Arafah. Hari di mana yang menjadi inti haji. Hari di mana Allah akan mengijabah dan mengampuni dosa-dosa seluruh hamba-hambaNya yang berwukuf di sana.
12.26. Tanpa terasa waktu dhuhur telah tiba. Di dalam tenda, aku maju ke depan. Menggenggam mic. Tanganku bergetar. Masih teringat bahwa sehari sebelumnya, suaraku sempat perlahan serak, dan akan habis, dan aku berusaha meminum jahe, tolak angin. Sembari senantiasa berdoa, agar Allah kembalikan suara ini. Agar Allah berikan suara terbaik saat nanti di hari Arafah aku mengumandangkan azan.
“Allahu Akbar... Allahu Akbar....”
Jiwaku bergetar hebat manakala memulai azan itu. Tiba-tiba saja pikiran ini melayang kembali ke masa lalu. Di hari itu pula, Rasulullah melaksanakan Haji pertama sekaligus menjadi Haji Wada’ beliau. Rasanya tangisku ingin pecah begitu saja. Ayat terakhir, Al-Maidah ayat 3 yang turun pada hari itu menjadi pertanda bahwa dalam waktu dekat, Rasulullah akan berpulang kembali ke rahmatullah. Hanya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang pada waktu itu yang menangis, yang seakan beliau paham bahwa kekasihnya sebentar lagi meninggalkan dunia.
Selesai azan, aku pun duduk. Mendengarkan khutbah, diiringi butir air mata yang bercucuran. Banyak pula jamaah di kanan dan kiriku yang terisak. Syaikh Khalid berkhutbah tentang sejarah Haji Wada’ serta keutaman-keutamaan di Padang Arafah. Lantas segala dosa yang pernah dilakukan muncul kembali dalam ingatan. Seakan jiwa ini merasa tak layak untuk berada di tanah haram. Seakan raga ini terlalu kotor untuk menginjakkan langkah di tanah Rasulullah.
Arafah, terima kasih telah menjadi tempat terbaik untuk bermuhasabah. Semoga kelak dapat kembali ke sana.