Tak ada yang lebih hening saat dinihari datang memeluk kesepian di hati. Matanya enggan terpejam untuk mempersilahkan rindu datang tanpa sungkan.
- Rindu dalam Hening Dinihari


#iwtv#interview with the vampire#the vampire armand#assad zaman#amc tvl


seen from United States
seen from Germany

seen from Malta

seen from France
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from Yemen

seen from Australia
seen from Yemen

seen from United States
seen from China
seen from China
seen from Netherlands
seen from Malta
seen from China
Tak ada yang lebih hening saat dinihari datang memeluk kesepian di hati. Matanya enggan terpejam untuk mempersilahkan rindu datang tanpa sungkan.
- Rindu dalam Hening Dinihari

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menggugat Film Porno
"Ada saja memang cara setan menggoda anak Adam. Godaannya selalu enak, bagaimana mau ditolak. Terlebih yang berusaha untuk ditolak merupakan kebutuhan paling dasar."
Kekalahan umat manusia atas teknologi. Ramalan yang kiranya seperti angin, kalau tak ingin dibilang seperti kentut, tak terlihat namun terasa. Hembusannya memang makin terasa sekitar satu dekade ini, dan makin subur saja. Bagaimana tidak, potensi teknologi melalui algoritmanya yang tidak hanya berusaha untuk meniru tetapi juga berusaha menjadi manusia itu sendiri menjelma menjadi mimpi buruk. Mimpi buruk yang akhirnya menjadi jualan juga dalam film science-fiction. Hilangnya peluang kerja, hidup dilenakan oleh mesin, manusia menjadi obesitas, genosida manusia dan mesin menguasai dunia. Spekulasi para ahli memang menuju kesana. Tapi dalam film kejadian buruk itu selalu digambarkan dengan begitu megah. Dan umat manusia batal menggigil ketakutan.
Toh kekalahan ini belum terbukti juga, nyatanya nanoteknologi, tangan bionik, penemuan bibit tahan penyakit tidak pernah menjadi ancaman bagi manusia. Terkontrol. Bahkan bisa dibilang sesuai dengan apa yang telah berusaha dicapai pada awalnya.
Ini merupakan hal yang besar, karena peradaban manusia pun belum pernah merasakan lompatan peradaban seheboh sekarang, yang dalam kurun waktu 400 tahun saja semua berubah begitu cepatnya.
Ketika kita memimpikan teknologi teleportasi, bisa saja dalam 50 tahun mimpi tersebut akan terwujud. Sebuah nikmat yang bahkan sulit dibayangkan para leluhur, yang mana harapan untuk menempuh perjalanan antara Kairo menuju Alexandria dalam waktu sekian jam hanyalah angan kosong. Hal menyedihkannya, angan tersebut baru dikabulkan oleh anak cucu mereka tiga millenium kemudian.
Lebih menyedihkan lagi bila kita menyadari bahwa dalam peradaban akan selalu ada penyelewengan. Teknologi sebagai piranti yang suci nyatanya dengan terpaksa harus menanggung dosa anak manusia. Peristiwa yang dimulai sejak rilisnya Le Coucher de la Mariée, tahun 1896, mengawali perubahan aktifitas hormonal yang tadinya merupakan konsumsi pribadi menjadi konsumsi publik. Diakui atau tidak, tayangan berkonten erotis itu berevolusi menjadi tayangan yang lebih vulgar. Ada saja memang cara setan menggoda anak Adam. Godaannya selalu enak, bagaimana mau ditolak. Terlebih yang berusaha untuk ditolak merupakan kebutuhan paling dasar. Sigmund Freud saja mengamininya.
Sang bapak psikoanalisis pun berfatwa bahwa bila dorongan purba itu ditahan, maka secara naluriah tubuh akan mencari berbagai objek demi pemuasan kebutuhannya.
Bila hal ini terjadi kepada orang dewasa mungkin tidak akan menjadi terlalu bermasalah. Kebijaksanaan berpikir, walaupun harus diakui tidak semuanya punya, secara keumuman dimiliki oleh orang dewasa. Terlebih bila sudah menikah, lancarlah agenda penetrasi dan injeksi yang tinggal disesuaikan saja kebutuhannya. Entah untuk kebutuhan prokreasi atau rekreasi, serevolusioner apa gerakan yang dipilih, bisa dipastikan ini kegiatan legal dan diterima masyarakat. Persoalannya ketika konten yang sebegitu dewasanya bebas akses, apakah anak-anak tidak akan tersentuh atas ekspansi industri celaka ini?
Sudah terlalu banyak bukti empiris. Kasus siswi SMP yang dihamili oleh seorang siswa SD, dan banyak kasus lainnya seharusnya membuka mata kita bahwa tayangan celaka itu rupanya mengakselerasi kemampuan reproduksi anak di masa kini. Bagi anak era 90-an, masa SD merupakan masa bermain yang indah. Berkejaran bersama layangan putus, berjibaku mencari belut di selokan, berburu burung. Bukan malah berburu kelamin. Ditanya soal mimpi basah saja diam seribu bahasa. Sebaliknya, generasi selanjutnya tercatat dalam sejarah menjadi generasi dengan imajinasi sempit, nalar dangkal, literasi rendah. Paling-paling hanya kuat membaca stensil koran merah pojok jalan.
"Semua karena visi futuristik kanak-kanak remuk redam digagahi khayalan seronok yang belum saatnya dikonsumsi."
Persoalan ini lagi-lagi menunjukkan bahwa manusia tak pernah takluk atas teknologi. Teknologi tetap menjalankan tugas yang diamanatkan padanya, memperkecil beban umat manusia. Tugas yang begitu mulia. Sayang seribu sayang, layaknya Siti Nurbaya yang tak bisa memilih sang pujaan hati, teknologi juga tak bisa menentukan apa yang harus ia sederhanakan. Apakah menyederhanakan jalan bagi peradaban atau malah menyederhanakan jalan menuju kehancurannya? Kami izinkan tuan dan puan bersabda.
Berlebihan ? tidak ada yang salah dengan bertahan bukan ? Bukankah sejak awal cinta memang tak tahu diri. Tak pernah membiarkanmu sendiri dan memaksa kita untuk menikmati luka itu berkali-kali. Ah, Bukankah selalu seperti ini, katamu ingin pergi dan takkan kembali. Lalu kau datang lagi, dengan berbagai janji untuk selamanya disisi. Katamu kau tak bisa sendiri, katamu hanya aku yang paling bisa mengerti. Katamu.. Katamu.. dan Katamu.. Sayang, berhenti datang dan pergi.. Kebiasaanku cuma mencintai, jangan buat jadi benci. Jadi, Mari kita mulai dari awal lagi. Selama kau menahanku, Aku takkan pergi meninggalkanmu. Tetaplah bersamaku, karena tidak akan kubiarkan siapapun mengambil posisiku, disisimu. Aku akan selalu egois, jika itu menyangkut kamu. Written by: Muhammad Galil Gibran Picture by: Naela Ali #penulis#galilgibran#sajak#puisi#Poems#dinihari #nostalgiahujan#dearviona#poems#quotes (di Special Region of Yogyakarta)
Pengalaman hidup akan mengajarkan kamu perihal kebahagiaan seseorang memiliki waktu mekarnya masing-masing. Jika kamu belum, jangan pernah iri, melainkan teruslah berusaha.
- Ingatan Dini Hari

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Mendekat padaNya, ketika menujunya. Baiknya begitu kan."
Sebuah kalimat yang mengakhiri perdebatan kepala dan hati. Bintang di langit kamarnya mengiyakan, air di sudut matanya menguatkan.
Ia menarik diri dari sendiri, melihat kepada yang banyak. Akankah semua makhluk berakal punya pergolakan yang sama. Atau hanya dia menyiakan dini hari untuk berdebat seorang diri.
Pagi masih terlalu dini, dinding dinding kota sibuk menggaungkan rasa sepi, sementara isi kepala tak kunjung beranjak sunyi.
Menuju Dini Hari
Di desa begini, pekat malam tidak banyak ternoda sinar. Makanya, masyarakat jangkrik asik diskusi. Makin larut, diskusi menjadi-jadi ambisi.
Pernah, satu jangkrik sok akrab bertanya. “Hei, sepertinya aku mengenalmu,” sok tau dia bertanya.
“Oh ya?”
“Iya, aku pernah melihatmu dulu, hm, sudah lama. Kau manusia yang pernah sering terjaga menuju dini hari, kan?” masih saja sok tau.
“A a, hm, ya, i ya. Tapi aku tidak mengenalmu, maaf. Terlalu banyak bangsamu, jadi cukup sulit mengenalinya satu per satu.”
“Tidak apa. Mana kawanmu? Sudah lama bincang kalian tidak terdengar.”
“Iya, memang. Tidak tau dia dimana, mungkin sedang kecewa atau bahkan tidak peduli lagi. Karena aku masih saja menatap hal-hal menggantung yang seharusnya telah diselesaikan di atas sana.”
“Selesaikanlah,” menyentuh ujung telunjuk, lalu ia berlalu tanpa mau tau.