(19)
Rapuh
Rapuh seringkali dianggap kelemahan. Seolah-olah menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan agar kita tetap bertahan. Tapi, bukankah langit pun harus mendung sebelum hujan turun membasuh bumi? Bukankah tanah harus retak sebelum tunas baru tumbuh?
Saat ini, aku memilih untuk merangkul rapuhku. Aku memilih untuk tak lagi bersembunyi di balik topeng ketegaran yang melelahkan. Aku izinkan diriku merasakan, mengakui, dan menerima. Karena di titik paling rapuh itulah, aku menemukan kekuatan yang lebih hakiki.
Seperti anak panah yang harus ditarik jauh ke belakang sebelum melesat ke depan, mungkin inilah cara semesta mempersiapkanku. Aku mundur sejenak, bukan untuk menyerah, tapi untuk mengambil ancang-ancang menuju lembaran baru yang lebih baik.
Dalam rapuh, ada doa yang diam-diam mengalir tanpa suara, menyentuh langit dengan segala pengharapan. Dalam rapuh, ada ruang untuk lebih mencintai diri sendiri, untuk berkata, "Aku berhak bahagia, aku berhak dijaga." Dalam rapuh, aku belajar untuk tidak lagi membiarkan siapa pun melukai hati yang telah kutata dengan susah payah.
Rapuh mengajarkanku untuk menerima bahwa tak semua hal bisa kukendalikan. Ada hal-hal yang hanya bisa kusandarkan pada Yang Maha Mengatur. Dan yang terpenting, rapuh mengajarkanku tentang seni memaafkan diri—bagian tersulit dari perjalanan ini.
I DO BELIEVE, -- seiring waktu, rapuhku akan bertemu dengan kekuatan doa dan ikhtiar. Aku akan bangkit, bukan sekadar bertahan, tapi melampaui. Aku akan menatap ke depan dengan mata yang lebih jernih dan langkah yang lebih mantap.
Rapuh bukan akhir. Rapuh adalah awal dari sebuah kebangkitan.
To Breaktrough








