Semoga Negeri ini dilindungi Allah dari segala macam yang hendak merusaknya.

seen from Singapore

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Russia

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from Russia
seen from Brazil

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Russia
seen from Switzerland
seen from China

seen from Germany

seen from United States

seen from Belgium
seen from Netherlands
seen from Malaysia
Semoga Negeri ini dilindungi Allah dari segala macam yang hendak merusaknya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Kalo kamu aja ga percaya, apa lagi seluruh dunia!"
KalamAsa, Depok : 191609082016
Menghimpun imaji, menyiapkan prasasti. Atas nama ruang publik alakadarnya, Abah sebagai dedengkot warung tergerak untuk sedikit berkomentar tentang acara #funnyneung. Abah berbicara bukan atas nama seniman, pengurus galeri ato kurator. Jauh teuing abah mah. Hanya sebatas penikmat saja, lah. Begini, suatu hari beberapa anak muda singgah di warung. Ngobrol lama, dan entah darimana awalnya obrolan masuk ke ranah gambar-menggambar, seni rupa, galeri, seniman, ini-itu, kesana-kemari. Berbagai pengalaman dibagi. Hingga muncul kesimpulan, di garut banyak sekali seniman (artworker) yg cenderung tak terwadahi. Faktor galeri dan tempat kongkow-kongkow untuk sekedar berbagi gelisah nyaris tak ada. Maka tak jarang, alumnus dari perguruan tinggi seni berakhir di pekerjaan settings dan percetakan, guru sekolah dan atau guru privat. Kegalauan sekaligus potensi diatas abah tangkap untuk mencoba mewadahinya. Maka terkumpullah beberapa artworker kekinian di kota Garut ini. Lagi-lagi, hanya sebagai penyedia tempat. Lain tidak. Permasalahan lain muncul. Jika kedai dengan sontoloyo dianggap sebagai galeri, maka kurator menjadi pikiran lainnya. Muncul nama Amenk Mufti dan Ken Terror dari mulut kebanyakan orang. Hanya saja, waktu dan kesempatan yg terbatas juga bekal yg masih jauh dari pengalaman mengadakan pameran manjadikan pencarian kurator tersebut tersendat. Sampai hari ini mau dibuka acaranya, Abah belum denger siapa yg akan jadi kurator. Tapi selentingan terdengar, "HAJAR AJA TANPA KURATOR" menjadi spirit tersendiri untuk "HAJAR AJA DULU BERKARYA". sebuah semangat yg patut diapresiasi, Abah kira. Ala kulli hal, kepada para seniman kota Garut, kepada seniman luar kota terkait -teutama sang calon kurator-, juga kepada para penikmat juga pelaku seni rupa garut, atas nama penyedia tempat, kami mohon maaf yg tulus jika masih banyak yg belum sempurna. Terimakasih atas atensi, apresiasi dan dukungan yg telah diberikan. Salam #gombrangkeun. -Abah Oehoen- #peradabandimulaidariobrolanwarungkopi #fannyneung #curatcoret #pameran #senirupa #garut #karoehoen #kopigarut (at Kedai Kopi Karoehoen Garut)
KAU ADA-GULITA TIADA
Malam identik dengan gelap. Meski kita sama-sama tau bahwa gelap tak mesti malam dan malam tak mesti gelap. Tentang malam-malam yang gelap? Gulita tak pernah ada saat kau berada di pelupuk mata.
Sudah sejak dulu kau adalah tentram yang buat aku karam. Hal baru adalah kau yang baru tau
Tedjo, seniman & budayawan yang terkenal itu menyadarkan aku tentang paradoks disini. Dalang yang gemar sekali berkata “jancuk” itu pernah menulis tentang oksigen yang membuat kita hidup, namun oksigen pula yang membuat kita tua. Pun denganmu. Anggun yang ada pada sosokmu menentramkan aku, namun tentrammu pula yang buat aku karam.
Ternyata selama ini Tuhan membaca tweet-ku, membaca tulisanku di tumblr, membaca statusku di facebook, membaca semua harapku padamu di media sosial yang aku punya. Kejadian tadi, jika aku ceritakan pada kawan satu kostan, itu akan sulit dapat percaya dari mereka.
Saat sedang bersamamu, handphone adalah barang yang tak berguna
Bukankah jemari yang seharusnya di genggam daripada benda dengan layar 5 inchi?
Kala kita duduk bersama, berdiri dan beranjak pergi adalah aksi yang aku benci.
Ketika kita saling menghadap, aku hanya ingin saling tatap. Tak perlu ada lirik kanan-kiri yang tak miliki arti
Aku tak pernah tau pada pukul berapa kita berjumpa. Durasi kita bertukar suara, saling menatap muka, aku tak pernah tau. Yang aku rasa hanyalah “tidak lama”. Bagiku, putaran waktu selalu lebih cepat saat kita bertemu. Aku menyangka mungkin waktu cemburu padaku yang sanggup menghadirkanmu. Untuk itu aku ucapkan terimakasih atas keikutsertaanmu membuat waktu cemburu padaku.
Kau tau secangkir kopi milikku di meja itu?
Aku tak mencampurkannya dengan gula. Dua bungkus gula yang diberikan pelayanhanya aku jadikan mainan, bahkan aku tawarkan padamu untuk menjadi benda yang dilempar pada pengunjung lain yang membuat kau kesal.
Bukan karena aku meneguk kopi itu dihadapanmu lantas kopi menjadi manis. Tidak. Pahit pada cangkir kopi itu kentara. Sengaja aku rasa agar aku tidak terlena. Wajahmu melukiskan bahagia, pahit kopi melukiskan derita. Aku imbangi itu agar aku tidak lupa tentang polaritas di dunia,
Damba tak hanya hayal belaka, ia lahir jadi nyata
Berjumpa tanpa tiba-tiba
Berjumpa sesuai aba-aba
Pertemuan yang disengaja
Janji yang disepakati bersama tanpa ada campur tangan HIMA
Aku suka
ya, aku suka !
Kita berkelakar diluar nalar. Kau tertawa, tersenyum, bercerita sambil kedua tanganmu menopang pipi yang jelita. Aku ingat itu sungguh terperinci. Hingga tahi lalat di bawah pergelangan tangan kananmu, aku tak mau lupa. Banyak lagi yang aku ingat. Sungguh teramat banyak. Kau melambaikan tangan saat aku mencarimu dari balik kaca, gestur terkejut saat air minum muncrat dari sedotan, memanggil aku dengan menyebut namaku dan kemudian kau ulangi dengan sebutan akang, ah sudahlah. Tak perlu semua aku ceritakan lewat aksara.
Ketika kita sedang saling bergantian mendengarkan cerita, kemudian pelayan toko memadamkan lampu selasar tempat kita berada. kemudian sorot lampu jalan menjadi nampak tegas dan ketika aku memandangmu ternyata lebih menyala. Malam ini terang. Sungguh terang. Gulita tiada jika kau ada.
Waktu pulang pun tiba, menahanmu untuk tetap duduk bersama bukan kuasa. Pria macam apa aku yang tega membiarkanmu pulang sendirian meskipun kau membawa kendaraan. Sepanjang perjalanan pulang, aku mengikutimu dari belakang. Aku lakukan itu sebab aku tak ingin merasa cemas disepanjang jalan pulang. Mengikutimu dari belakang itu mengasyikan, seolah aku benar-benar mengejarmu. Tak mau ada motor lain yang berada dibelakang motormu selain aku. Ban depan motorku tak lebih dari 5 meter dari ban belakang motormu, hingga aku bisa melihat spion kiri motormu yang menggambarkan wajahmu. Itu yang membuat aku selalu tertawa ketika mengikutimu. Aku haturkan terimakasih banyak teruntuk spion kiri.
Kau masuk gang menuju kostan, aku memutar arah pulang. Aku memacu gas sesuai kehendakku, tak adalagi yang harus diikuti, tak ada lagi pengendara motor yang mengenakan jaket dengan tulisan “lebanon” dibelakangnya, tak ada lagi spion kiri yang memberikan cahaya jelita.
Setibanya aku, aku rebahan. Bahagia dan kemudian terlelap tawa.
Aku tak ingin banyak berucap terima kasih, sebab aku mau lagi.
Berkelakar, bercerita, berbagi susah, sepah, kesah, atau bahkan hanya berdiam diri saja. Asalkan bersama.
Bukan soal makanan yang terhidang di piring, tapi pertemuan yang membasahi jiwa yang kering
Bukan juga minuman yang ada dalam cangkir, tapi perjumpaan yang membuat jiwa terukir
Bukan list menu yang ditawarkan pramusaji, tapi tatap muka yang menghancurkan bongkah sepi
Hal yang tidak bisa aku lakukan adalah berpura-pura saat mengungkap cinta dengan aksara. Menuliskan tentang isi yang ada dalam hati memang tak pernah bertepi. Meski sosok yang didamba selalu sama, namun selalu pula melahirkan kata yang berbeda. Waktu akan beritau mana yang lebih dulu antara mata yang lelah membaca, kemudian meminta aksara berubah jadi suara agar bisa dicerna oleh telinga. Atau kaki yang lelah berdiri kemudian meminta lari ke lain hati yang lebih berikan janji-janji. Maaf, aku lebih suka mempersembahkan satu bait puisi yang sudah jadi daripada memberikan janji yang belum pasti ditepati.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tanya
Lilin mana yang tak sudi disulut api.? Hati mana yang tak sudi kau tempati.?
Kursi mana yang tak sudi diduduki.? Pundak mana yang tak sudi kau sandari.?
Pintu mana yang tak sudi dikunci.? Jiwa mana yang tak sudi kau sayangi.?
Malam ini langit sepi dari rasi Disini aku mengusir sunyi dengan menatap wajahmu pada layar 5 inci
(2016)
Sebab hanya pada paraghraf cerita aku dan kau bisa bersama secepat yang aku harapkan, selama yang aku inginkan
Kita telah sepakati bahwa dunia ini terlampau berisik oleh hujat manusia, dan itu yang buat kita terus bersembunyi dibalik kelopak mata mereka
Bagiku bukan sebuah perkara yang perlu diselesaikan oleh fatwa tentang siapa yang memulai Pendosa ialah dia diantara kita yang akan memutuskan pergi
Tentang waktu yang belum juga jenuh melaju Jangan sungkurkan aku pada lubang kepedihan Tentang hari yang terus bergantian Jangan kubur aku dengan tanah penantian
Aku telah jatuh suka sejak lama Tak peduli tau masa lalu Jalan panjang di depan lebih perlu dirundingkan Mengucap keputusan Jangan mengulur waktu Jangan pula terburu-buru
Apapun yang terjadi menghampiri atau melangkah pergi Aku terima sebagai takdir Illahi
Tak usah banyak janji Sebab janji ibarat belati yang merobek hati Isi hati sebuah ruang privasi Semoga aku dan kau bisa saling mengisi
Apakah kau sadari.? Kau telah menyalakan api pada hati yang sejak lama diselimuti gelita. Apakah kau sadari.? Kau telah melepas tali-temali pada dada yang sejak lama dihimpit sesak. Apakah kau sadari.? Kau telah menanam benih pada jiwa yang sejak lama dilanda gersang. Segeralah sadari Segeralah yakini Dan jangan sekali-kali kau sesali