Integritas Seorang Sahabat Rasulullah SAW
“Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat, akan lebih berat keimanan Abu Bakr.” – Rasulullah SAW
Ketika manusia memilih berbisnis dan mendapatkan sejumlah kekayaan, Abu Bakar meninggalkan seluruh perdagangannya hanya untuk berjuang bersama Rasulullah SAW di jalan Islam.
Ketika para pejabat memperebutkan kursi Penguasa, Abu Bakar di-bai’at oleh Umat Islam untuk menggantikan Nabi Muhammad SAW. Sebagai khalifah.
Ketika kursi kekuasaan hanya digunakan untuk memperoleh kekayaan yang melimpah di luar batas kebutuhan, salah satu sahabat Rasulullah SAW ini bahkan tidak meminta hak yang melekat pada jabatannya…
“Bagaimana aku menafkahkan anak istriku, jikalau aku tidak berdagang kain wahai Umar?”Abu Bakar menjawab dengan tegas pertanyaan sahabat karibnya itu. Umar bin Khatab, dialah yang menanyakan bagaimana bisa seorang khalifah yang menanggung nasib seluruh umat islam, dalam waktu yang bersamaan juga ikut berdagang kain untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya?
Maka Umar mengajak Abu Bakar untuk mengunjungi Sang Kepercayaan Ummat, atau biasa dikenal dengan Aminul Ummah, yaitu Abu Ubaidah. Abu Ubaidah ini adalah pemegang kunci Baitul Maal yang sangat dipercaya oleh srluruh umat Islam. “Dia akan menetapkan upah bagimu dari Baitul Maal,” ujar Umar bin Khattab kepada Abu Bakar.
Akhirnya, Abu Bakar mendapatkan tunjangan yang telah diperhitungkan oleh Abu Ubaidah sebesar tunjangan yang diperoleh oleh Para Muhajirin yang tidak memiliki penghasilan tetap.
Hingga suatu ketika, Abu Bakar tidak memiliki uang yang tersisa dan di saat yang bersamaan Abu Bakar pub menginginkan sebuah makanan manisan. Istri beliau pun mengatakan jika diperbolehkan ia akan menyisihkan tunjangan dari Baitul Maal setiap bulannya untuk dibelikan makanan manisan untuk Abu Bakar. Abu Bakar pun mengiyakan saran dari istrinya tersebut.
Akan tetapi, setelah uang untuk membelikan makanan manisan tersebut terkumpul oleh sang istri, Abu Bakar tidak membelikannya. Melainkan menyetorkan uang yang berhasil dikumpulkan oleh istrinya tersebut ke Baitul Maal. “Dengan ini, aku mengetahui bahwa tunjangan yang aku dapatkan dari Baitul Maal melebihi batas kebutuhanku. Wahai Abu Ubaidah, mohon tunjanganku dikurangi sesuai uang simpananku ini,” Ujar Abu Bakar.
Integritas beliau terhadap dana ummat tidak berhenti sampai di situ. Di penghujung hayatnya, beliau mewasiatkan bahwa seluruh barang yang dibeli dari dana tunjangan Baitul Maal, agar diserahkan kepada Khalifah penggantinya kelak. Bahkan, beliau menyerahkan kebunnya kepada Baitu Maal sebagai dana tunjangan yang didapatinya selama ini.
Perlu diketahui, bahwa beliau telah dijamin sebagai penghuni surga oleh Rasulullah SAW. Namun, Abu Bakar tetap menjalani kesehariannya bagai orang yang terus mencari ridho-Nya untuk mendapatkan surga-Nya. Semoga kita bisa meneladani beliau dan dikumpulkan bersama di surga-Nya. Allahumma Amiin. Wallahu a’lam Bi-Shawwab.
Tulisan ini disadur dari https://www.wattpad.com/564149982-kisah-sahabat-rasulullah-abu-bakar-ash-shiddiq-ra








