Kalau memang dibilang pantas atau tidak untuk menjadi seorang guru, sungguh kami masih sangat ā sangat dibawah standar guru yang berkompeten di bidangnya. Kami sungguh masih ingin tetap belajar dan ilmu kami tentu belum tentu mampu dan mumpuni di bidang ā bidang yang dipelajari. Apalagi, kami mengajar anak ā anak yang sejajar dengan bangku anak sekolah menengah pertama dan ke atas. Jangankan untuk menjadi ahli di bidangnya, untuk faham dengan materi yang akan dipelajari saja, kami sering mendapatkan ilham dan pencerahan sejam sebelum mengajar.
Berangkat dari istilah barokatologi, segala sesuatu memang tidak akan pernah bisa harus dikalkulasi secara riil dan logis tentang bagaimana kami semua bisa mengajar dan mendidik anak ā anak. Tidak bisa diukur dengan material, bagaimana kami bisa menjalankan pengabdian kami sebagai guru dan merangkul anak ā anak kemudian.
Ada banyak hal kasat mata, dan tentu tidak semua orang bisa tahu apa rahasia dari suksesnya orang bisa mendidik dan mengajar.
Barakatologi tidak pernah bisa dijelaskan secara gamblang, bagaimana teori dan materinya. Itu semua datang dari Maha Pemberi Barakah.
Kami yang mengajar di kelas, mungkin hanya berbekal ilmu ā ilmu dan pelajaran yang sudah kami pelajari di bangku dasar KMI, belum tentu bisa menyampaikan ilmu ā ilmu itu secara jelas kepada anak ā anak yang kami ajarkan. Belum tentu pula kami bisa menjelaskan se-detail mungkin kepada mereka, karena mungkin dulu kami juga belum tentu memahami jelas apa yang telah diajarkan guru ā guru kami sebelumnya.
Lantas, apakah standar guru ā guru yang mengabdi di pondok harus benar benar punya kecerdasan di atas rata ā rata? Nyatanya, tidak.
Ada banyak milyaran kisah yang tertulis maupun tidak, bermula dari tekad seorang guru yang mengajar karena yakin. Kami belajar untuk yakin, kalkulasi spiritual jauh lebih tidak masuk akal saat kami tidak menghitung dan perhitungan dengan apa yang telah diberikan.Kami hanya berbekal niat yang baik saat kami mengabdi untuk kebaikan.
Ternyata, memang tidak bisa jika hanya bercampur dengan ulah tangan manusia saja. Ada banyak ribuan tangan yang harus diraih dan didoakan. Kalau hanya mengharapkan imbalan dari kalkulasi duniawi, sepeser jasa pun tidak akan cukup membayar dan mengusap peluh setiap guru yang sudah merelakan banyak kesempatan.
Mengajar dan mendidik mereka, juga mengajarkan kami banyak hal.
Bahwa kedekatan dan muamalah dengan manusia saja, tidak akan pernah cukup untuk bisa mewariskan ilmu-Nya untuk kembali dimiliki dan juga dibagi.
Kalau hanya urusan memberi, belum tentu ia akan menerima dengan sepenuh hati. Tapi untuk mewarisi, semoga akan selalu menjadi jariyah yang alirannya tiada henti.