Rabu, 15 Mei 2014
Akan menjadi hari yang mendebarkan bagi setiap anggota tim di Butterfly.
Bagaimana tidak? Semuanya akan memasuki pengalaman pertama.
Di hari Rabu yang gerimis manja itu, kami dihubungi oleh SD Islam Al Azhar 30 Bandung untuk mengisi moment “akhir” bagi guru dan orang tua siswa kelas 6 sebelum minggu depan anak murid mereka menghadapi Ujian Nasional.
Frame trainingnya adalah Kang Harri akan mengisi di tempat guru dan orang tua, di waktu yang bersamaan para siswa Kelas 6 dikondisikan sebelum di akhir sesi mereka akan dipertemukan.
Biasanya yang menjadi operator Kang Harri adalah Kang Tedi, namun Kang Tedi akan ikut Action Coach Mas Jaya YEA. Biasanya, kalau tidak ada Kang Tedi, maka Kang Asep yang jadi operator. Namun Kang Asep pun ikut Action Coach sama dengan Kang Tedi.
Biasanya, dalam kondisi seperti itu, saya lah selanjutnya yang menjadi Operator + MC Kang Harri.
Tapi, Kang Harri minta saya yang ngisi di siswa-siswa Kelas 6. Kasih training kecil-kecilan. Maka, tim pun dibagi.
Bersama dengan Kang Harri adalah Kang Prima dan Mas Ibas. Bersama saya di tempat para siswa adalah Lu’luk dan Dewi.
Otomatis kita semua merasa … saya sih happy :D hehe.
Bagi Kang Prima, itu adalah kali pertama dia menjadi operator + MC Kang Harri (sibuklah Kang Prima diorientasi oleh Kang Tedi). Menjadi operator + MC di ButterflyAct tidak semudah seperti di tempat-tempat lain. Butuh thinking dan feeling yang kuat di waktu bersamaan.
Bagi Mas Ibas yang sedang magang di ButterflyAct, ini akan menjadi pengalaman pertamanya menjadi Man Power di training ButterflyAct.
Bagi saya, ini akan menjadi kali pertama saya menjadi “pembicara” … mau nulis trainer, tapi gak enak karena belum certified. Sebelumnya sering jadi pembicara, tapi atas nama pribadi. Sekarang, saya bawa bendera ButterflyAct :)
***
Di sore hari sebelum hari Rabu (yang berarti Selasa sore), saya briefing kecil-kecilan dengan Dewi dan Lu’luk.
Lu’luk akan jadi MC dan memperkenalkan saya (sesi take off; menaikkan pesawat), Dewi akan mengisi sesi landing (menurunkan pesawat) menurunkan emosi anak-anak kalau perlu sampai emosi mereka nangis. Saya, di bagian saat pesawat sudah terbang. Saya yang memberi materi training.
Bagi Lu’luk, meskipun bukan asing lagi untuk bertemu dengan anak-anak, plus dia juga adalah project manager Kelas Public Speakingnya ButterflyAct, tapi moment itu akan menjadi moment pertamanya menjadi MC di ButterflyAct (keduluan sama saya malah). He. So, dia berlatih sepanjang malam ala Bruce Lee mungkin ya.
Dewi, Sang Sekretaris, tipikal pemilik watak yang paling keras di semua anggota tim, harus bisa dan mampu melembutkan hati anak-anak. Dia, membaca entah berapa kali berlembar-lembar artikel inspirasi.
Saya?
Karena masih hangat baca Unlimited Power, saya mau kasih value tentang Kekuatan Meraih Cita-Cita.
***
Moment pun berlangsung. Sulit menggambarkan bagaimana suasananya. Namun, untuk semuanya perlu saya beri nilai 9/10. Semuanya keren. Memang benar jebolan dunia training.