Terkadang bukan karena tak punya kemampuan untuk berbuat baik. Hanya saja kita yang sering mempersempit pandangan kita terhadap kebaikan itu sendiri. Seolah-olah satu-satunya cara untuk berbuat kebaikan hanyalah dengan media benda dan nominal.
Alhasil, ketika fokus kita terpusat pada kemampuan yang terbatas itu; yakni dengan memandang bahwa hanya dengan uang atau benda sajalah kebaikan itu dapat terwujud. Maka seringkali pada akhirnya yang demikian hanya berujung membuat kita menjadi urung dalam melakukan amal-amal kebaikan.
Pada saat yang bersamaan, kita tak sadar bahwa selama ini kita memiliki kemampuan atau sarana berupa keahlian yang mungkin tidak dimiliki atau terluput dari para jutawan dan penderma.
Padahal, segala hal yang berbau nikmat itu adalah sarana dalam beramal, dan, kabar baik untuk itu adalah, tak ada satupun makhluk yang tidak diberi nikmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Mungkin kita sudah memafhumi bahwa karunia yang diberikan tidaklah selalu sama.
Harusnya, yang demikian itu menjadi media untuk menyadarkan diri kita bahwa karunia yang berbeda-beda itu adalah nikmat dalam arti yang lain.
Lantas mengapa sering kali kita berebut 'peran'?
Memanglah betul bahwa dengan ekonomi yang baik maka agamapun akan tegak sehingga menambah izzah bagi kaum Muslimin. Juga mengingat sabda Nabi -Shalallahu' alaihi wa sallam tentang kesetaraan pahala karena rasa cemburu kepada orang yang dengan hartanya dia berinfak. Dalam hal ini, tidaklah mengapa, bukan berarti iri terhadap amal perbuatan para dermawan itu dilarang.
Hanya saja, seringkali fokus kita terus menerus terpusat pada koridor harta dalam melihat peluang-peluang beramal baik. Sampai kita sendiri pun lupa akan potensi atau kemampuan yang kita miliki. Padahal jika kita mau memanfaatkan potensi yang telah ada. Tak menutup kemungkinan niat baik yang kita pupuk akan berujung ganjaran yang nantinya akan siap kita tuai. Insya Allah
Allah mentitahkan perintah yang mudah
Allah mentitahkan perintah yang mudah dan menyuruh para hambaNya untuk bertaqwa kepadaNya menurut kemampuan hamba-hambaNya.
Maka bersyukurlah untuk itu, dengan merefleksikan nikmat yang diberikan menjadi amal baik, dengan bersegera mengerahkan seluruh potensi yang telah Allah titipkan.
Bukankah tak lebih baik jika saling menyempurnakan niat-niat baik itu dengan mengerahkan masing-masing potensi?
Karena, tidak semua orang dikarunia harta yang dengan itu dia menderma
Tidak semua orang dikarunia kekuasaan yang mungkin dengan 'tangan' nya menjadi sebab terbukanya pintu kemaslahatan
Tidak semua orang dikarunia ilmu yang dengan itu orang-orang dapat mengambil manfaat lewatnya
Mungkin tiga dari yang demikian ini cukup mewakili nikmat-nikmat yang ada. Dan mungkin seseorang mempunyai dua nikmat diantara ketiga nikmat-nikmat itu. Atau barangkali hanya salah satu atau barang kali tidak memimiliki ketiga-tiganya.
Tapi, ada satu nikmat yang dapat mengalahkan ketiga dari nikmat-nikmat tersebut. Ia bernama adab dan akhlak mulia. Sebuah nikmat yang mahal dan mudah, langka layaknya permata terutama pada dizaman yang krisis moral saat ini
Jika kita sering kali bertanya-tanya perihal "Kapan saya bisa berbuat baik?" Maka jawabannya adalah secepatnya. Dan juga perihal "Apa yang akan saya berikan?" Maka jawabannya adalah kerahkan saja apa yang kamu mampu
Bicara sektor sosial, Islam tidak pernah mensyaratkan bahwa berbagi kebaikan itu hanya diperuntukkan oleh yang berharta. Bahkan perihal nominalpun tak ada batas yang ditentukan. Tapi, kendati begitu, tidaklah menafikan bahwa seorang Muslim untuk bersungguh-sungguh dalam berniaga dan berupaya mempunyai pengaruh di sektor perekonomian, yang dengan itu berharap dapat menolong kaum Muslimin dan mengangkat martabat umat.
Pernah dengar tentang seorang Driver ojol yang mengratiskan jasanya kepada customer?
Pedagang warung tegal yang meng-gratiskan makanannya untuk pengguna jalan?
Atau para pegiat dakwah yang pergi keplosok-plosok desa terpencil yang secara suka rela mengajarkan Al-Qur'an dan gembira dalam mengenalkan sunnah RasulNya kepada mereka?
Maka sudah sepatutnya, mainkan saja peranmu, walau itu hanya sekadar memberi motivasi dan semangat.
Mainkan saja peranmu, meski sebatas rekahan senyum dan adab yang baik.
Mainkan saja peranmu, walau itu hanya berupa mengajarkan Al-Qur'an di surau-surau.
Mainkan saja peranmu, meski itu sebatas mencegah orang lain agar tidak jatuh pada kemungkaran
Mainkan saja peranmu walau hanya sebatas memberikan nasihat dan saran
Karena Allah adalah Rabb yang Maha Adil, sekecil apapun upayamu dalam berbuat baik. Allah akan catat meski kadang kita telah lama melupakannya.
Bantulah niat-niat baik itu dengan berupaya untuk mewujudkannya. Biarlah bermula dari yang ringan, yang bisa kau lakukan.
Sedikit mengutip tulisan dari mas @satriamaulana
"Kepantasan itu bukan buat ditunggu, tapi diusahakan konkret & berkelanjutan."
Perihal apa yang didalam hatimu, Allah tidak lalai akan hal itu. Karena, niat yang baik dan aksi yang disegerakan akan menjadi sebab terbukanya pintu kebaikan yang lainnya. Insya Allah