✒️Today submitted my translation work of original kannada book "ಬೆಳಗು" By Prof Chandrashekhar Vastrad😍 #translation #englishwriting #Bookwriting #belagu #Literature #Gadag #Mahatisings https://www.instagram.com/p/CZ3qhb1hMM6/?utm_medium=tumblr
seen from Japan
seen from United States
seen from Spain

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Maldives
seen from Japan
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from United States

seen from Malaysia
✒️Today submitted my translation work of original kannada book "ಬೆಳಗು" By Prof Chandrashekhar Vastrad😍 #translation #englishwriting #Bookwriting #belagu #Literature #Gadag #Mahatisings https://www.instagram.com/p/CZ3qhb1hMM6/?utm_medium=tumblr

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Belagu di Sosial Media
Saya sebenarnya ingin memberi judul tulisan ini menjadi “Baru Punya Sosial Media Saja, Tingkahnya Sudah Kayak yang Punya Sertifikat Bumi,” tapi karena kepanjangan, cukuplah Belagu di Sosial Media saja yang saya anggap sudah merepresentasikan apa yang saya pikirkan.
Saya sebenarnya ingin curhat saja mengenai perasaan saya sendiri tentang perilaku kita dalam ber-media sosial. Karena banyaknya pengguna, maka banyak pula jenis pikiran dan tingkah laku yang bisa saya saksikan.
Dan harus saya akui bahwa perbedaan itu memang harus dihargai, tapi terkadang, ada batasan dimana saya sendiri menjadi muak dengan apa yang saya saksikan.
Tentu saja tidak semua konten atau informasi yang diunggah di internet melalui akun media sosial ini bisa saya senangi semuanya. Itu sudah pasti. Namun tetap saja kita diberikan pilihan untuk menjadi bijak atas setiap informasi yang kita publikasikan.
Meskipun kebebasan berpendapat itu juga dilindungi oleh Undang-Undang, tetap saja ada aturan tak tertulis yang harus kita ikuti jika “rasa” yang tertanam dalam diri kita memang ada.
Sayangnya, egoisme justru terkadang mengambil alih akal pikiran kita sendiri hingga tak pelak saya bisa menyaksikan orang-orang yang merasa benar sendirinya seolah kebenaran yang ia yakini itu bersifat mutlak. Padahal, bisa jadi ia pun ragu dengan apa yang dikatakannya.
Tapi mau bagaimana lagi, ada saja yang ingin terlihat cerdas dan menang atas argumen orang lain tanpa mencari tahu informasinya lebih jauh. Mungkin biar terlihat keren karena debat secara online tidak akan memperlihatkan ketakutannya sendiri. Dan memenangkan argumennya sendiri sepertinya menjadi salah satu tujuan nekatnya seseorang menjatuhkan pihak lain.
Apa yang bisa didapatkan dengan berperilaku seperti itu? Gajinya dinaikkan atau kesejahteraan hidupnya bertambah? Atau jangan-jangan malah semakin terperosok dalam penderitaan.
Sosial media memang tak bertelinga. Namun kita tetap dituntut untuk bisa mendengarkan dan menyerap dengan baik pernyataan pihak lain, terlebih yang berbeda dengan diri kita sendiri.
Dengan sedikit kesabaran saja, bisa jadi orang yang kita ajak berdiskusi mau untuk lebih mengeluarkan pemahamannya untuk dbagikan, begitu juga dengan pengalamannya.
Namun jika sudah memang keras kepala, bagaimana bisa ilmu dari pihak lain akan sampai kepadanya jika mendengarkan saja tidak mau. Apalagi jika percaya bahwa pendapatnya dan kelompoknya adalah yang terbaik. Makin tambah runyam. Bahkan, lanjut berdiskusi dengan orang yang keras kepala itu justru akan membuat kita semakin bodoh. Tidak banyak yang bisa kita ambil dari dirinya atau jangan-jangan memang tidak ada sama sekali.
Sosial media memang bukan platform untuk mencari ilmu atau tempat khusus untuk menjadi bijak meskipun sebenarnya hal itu memungkinkan. Tapi bukan juga tempat yang khusus untuk menjadikan kita sebagai seseorang yang bodoh.
Beberapa konten yang pernah saya konsumsi di sosial media menyarankan bagi yang melihatnya bahwa “jika tidak suka, tidak usah dilihat.” Kalimat ini biasanya cukup ampuh untuk mendiamkan orang lain. Namun bagi saya, kenapa tidak sekalian saja mengatakan kepada orang lain untuk menon-aktifkan dirinya sendiri dari platform yang digunakan.
Algoritama sosial media saat ini sudah semakin canggih. Kita tidak bisa mengontrol informasi apa yang seharusnya muncul di beranda sebuah platform. Kalaupun bisa dikendalaikan, tidak banyak yang mau melakukannya.
Karena itu, saya sedikit berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat karena bisa saja apa yang saya katakan menjadi hal yang buruk bagi pengguna lainnya.
Apalagi pada banyak kesempatan, saya menjadi follower atau berteman dengan sesama keluarga sendiri, maka kebebasan mengeluarkan pendapat harus lebih dipikirkan lagi dengan baik. Karena jika tidak, maka keluarga saya sendiri juga yang bisa mengkonsumsi konten buruk yang saya produksi.
Menggunakan platform blog yang dikombinasikan fungsi sosial media seperti Tumblr juga tidak menurunkan sisi kehati-hatian saya. Padahal jika dipikirkan, siapa yang tahu diri saya sendiri ketika memutuskan menjadi anonim di platform ini?
Karena itu saya memang mencari jalan aman, yaitu menyadarkan diri saya sendiri mengenai konten seperti apa yang harus saya hadirkan. Jika apa yang saya bagikan tidak memiliki manfaat bagi orang lain, setidaknya saya tidak berkontribusi untuk menambah penyebaran informasi yang bisa merusak.
Saya benar-benar tidak ingin menjadi orang yang bahkan saya sendiri membencinya. Belagu dalam bermedia sosial bukanlah diri saya baik di dunia nyata maupun di internet.
Mending saya fokus untuk menginvestasikan waktu saya dalam memerbaiki kualitas menulis saya. Ketimbang harus tampil keren dan bisa dianggap sebagai orang yang sangat pantas untuk dikutuk.
Baca juga: Kita Dikelilingi Oleh Kematian
Jika ada informasi yang saya publikasikan dan dianggap salah di blog sederhana ini, silahkan untuk disampaikan. Barangkali itu juga bisa bernilai kebaikan untuk kita semua. Selamat malam Sabtu.
Nah... #nostress #belagu #soktahu #kelautaja #havefungomad ! ^_*
Tema #gowithepict lagi move on, ya. Ah, susah. Nggak ada yang kepikiran. Nggak pernah susah move on sih.
~~~/o/
#belagu #boys #volleyball

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
cerita anak akuntansi(episode 5) : jangan belagu!
Cerita singkat. Sesingkat-singkatnya.Ini dia :
Si gue ceritanya mau balikin buku jadi pergilah ke kampus hari ini. Di tengah jalan ada warung ramen yang eye-catching.warnanya merah. Itu warung baru, pengunjungnya pun cukup banyak.Penasaran tuh.Dulu pernah mau kesana tapi gak jadi-jadi. Ya udeh gue langsung masuk ke tu tempat. Menu andalannya adalah ramen pedes, ada 5 level (lagi musim yang pedes-pedes ni di bandung).
Dulu si gue pernah makan ramen di salah satu restaurant jepang, mesen yang paling pedes dan cing-cay alias fine2 aja. Padahal bukan penikmat makanan pedes. Sekarang, pas liat menu di warung merah,disini ada 5 level pedes. Ada temen yang pernah biang"Ati2 pedes cuy" Tapi karena nganggap remeh "Ah..santai~ dulu aja pernah yang paling pedes. Sekarang mesen yang lvl.3 aja deh.klo level 2 apalagi 1 gak ada apa-apanya ntar" Singkat cerita mie ramen kare pedas lvl.3 plus baso datang. Tak lupa baca bismillah "Bismillah..(doa)" Makanpun dimulai.
(hening)
"Beuh!! pedes uy ternyata!Haaaaah~ padahal lvl.3. Alamak!" Yaudah terus dimakan tu ramen. Udah dibeli, sayang klo ga dihabisin.
Pusing. Agak pengap telinga.Tangan jadi kesemutan.Perut panas.
Udah gitu berbisik dalam hati, "Makanya jangan belagu! istighfar..astgfrllah3x.bentuk takabur keci kali ya? Ya Tuhan.Afwan ya Allah. Sungguh yang boleh sombong cuma Engkau. Manusia ga pantes sombong sama sekali dalam bentuk apapun."
#Bandung, 09/11/2011
sombong
hidup itu simbiosis mutualisme. dimana kita bisa saling menguntungkan satu sama lain. paling ga itu prinsip yang saya pegang, kalo orang lain mau manfaatin saya ya silahkan, then I'll do the same thing. jadi kalo anda punya tujuan sendiri, get it, tapi jangan sampe merugikan orang lain. saya juga ada visi terselubung, dimana hanya saya yang tau, tapi liat sisi positifnya, I do something. Ya saya tau, you also do something, or maybe many things. Tau apa yang saya liat? pressure. jangan dianggep beban lah, santei aja. just do our best. sayang loh, bagus sih tapi isinya kosong. fake. lebih bagus lagi, luar dalem itu cantik.
saya ga pengen sih sebenernya menghakimi anda, tapi di mata saya, catat ya: hanya di mata saya, dan saya ga akan ngajak orang lain untuk liat dari sisi saya: anda gagal. you almost perfect, as a human of course. but then you told me about him. that's your fault. he may tell bad things. and they will laugh. see? fake.
yah, anggap saya hanya menilai, sebagai orang luar. anyway, I'll do my best, for you. just for you.