Barusan aku baca sepenggal kalimat yang bunyinya kaya gini, “Yang bukan untukmu adalah yang paling membuatmu jatuh cinta.”
Memang benar, kamu yang datang hanya sekedar singgah, ternyata menjadi orang yang paling kucintai dengan sungguh. Aku berpikir akhir dari kita akan menjadi takdir, namun pada kenyataannya cuma sekedar hadir. Dari sekian juta manusia aku jatuh begitu dalam kepadamu, hingga aku tak tahu bagaimana cara kembali ke permukaan.
Menghilangkan namamu dari kalimat doaku tak pernah terbayangkan olehku. Bertemu titik akhir perjalanan ini bukanlah mimpi yang selalu kita rencanakan. Ah sial, ini begitu ironi bagiku.
Dan kini aku hanya bisa tersenyum getir, sambil berlari menampik kenyataan. Maaf, aku begitu pengecut karena tak siap menerima fakta menyakitkan.
Lagi dan lagi, aku ditampar oleh harapan yang mustahil diwujudkan. Aku begitu terbuai kenangan menyenangkan hingga lupa, bahwa cerita ini sejak awal tak pernah menjanjikan sebuah takdir. Melainkan sekedar pertemuan lalu menghilang.







