Ooooo, hi hi! I've got a poll! What's everyone's favorite kingdom? Not like a monarchy lol, but Animalia, Plantae, Fungi, Protista, Archaeabacteria, or (Eu)Bacteria! I really like Fungi! :D
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Carl R. Woese, an American microbiologist and biophysicist, was born on this day in 1928. Woese and fellow scientist George Fox are known for discovering the existence of Archaebacteria (which Woese later deemed “Archaea”) in the 1970s. Woese’s research on Archaea is considered to be some of the most influential in microbiology. His discovery has influenced further study into Archaea and, in the past 20 years, scientists have come to learn that Archaea represent a major proportion of microbial biomass on the planet and make unique and essential contributions to biogeochemical cycles.
Image: Carl Woese in February 2004 by Don Hamerman - Institute for Genomic Biology, University of Illinois at Urbana-Champaign. CC BY 3.0 via Wikimedia Commons.
Deep sea microbes exhibit innovative ways of getting energy
Deep sea microbes exhibit innovative ways of getting energy
The Scientific Inquirer needs your support. Help us explore the beauty of Science and Culture. Visit our Patreon page and discover ways that you can make a difference. http://bit.ly/2jjiagi
A new study has revealed how a group of deep-sea microbes provides clues to the evolution of life on Earth, according to a recent paper in The ISME Journal. Researchers used cutting-edge molecular methods to…
More Mats, Lesser Geyser Basin, Yellowstone National Park
More bacterial mats from the lesser geyser basin in Yellowstone National Park. The photo on the right also showcases that, while off limits to visitors, these mats are not off limits to wildlife (notice the bison tracks).
[SKL 2] PERAN VIRUS, ARCHAEBACTERIA, DAN EUBACTERIA BAGI KEHIDUPAN
VIRUS
Virus sering disebut sebagai peralihan antara makhluk hidup dan benda mati. Hal ini dikarenakan virus menunjukkan ciri makhluk hidup yakni dapat bereproduksi, tapi mengkristal seperti benda mati jika berada di lingkungan luar. Virus berasal dari bahasa Latin yang berarti racun karena sifatnya seringkali merugikan.
Ciri-ciri Virus:
Bersifat aseluler: cirus tidak memiliki sitoplasma dan organel seperti sel, tapi hanya asam nukleat yang diselubungi protein.
Berukuran renik: Virus sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan mikroskip elektron. Ukuran virus adalah antara 2-300 milimikron.
Memiliki salah satu asam nukleat: Virus tersusun datas RNA saja atau DNA saja.
Tubuh diselubungi selubung protein: Asam nukleat virus diselubungi selubung protein yang disebut kapsid.
Hanya dapat hidup dan berkembang biak di makhluk hidup yang menjadi inangnya. Virus bersifat parasite obligat sehingga tidak bisa melakukan metabolisme sendiri. Oleh sebab itu, virus hanya dapat melakukan reproduksi dan metabolisme jika ia berada dalam tubuh inangnya.
Dapat mengkristal: Virus dapat dikristalkan sebagaimana benda mati dan dapat dicairkan hingga aktif kembali.
Struktur Tubuh VirusStruktur Tubuh Virus
Kepala virus berisi asam nukleat yakni DNA atau RNA untuk mengatur kegiatan virus. Asam nukleat diselubungi kapsid (selubung protein) yang tersusun atas unit-unit protein bernama kapsomer. Kapsid berfungsi melindungi virus.
Ekor tidak dimiliki seluruh jenis virus. Ekor berfungsi sebagai tabung yang merupakan jalan lewat asam nukleat saat menginfeksi inang. Bagian dasar ekor (jarum penusuk) berperan dalam pelekatan virus ke inangnya.
Virus memiliki bentuk yang beragam antara lain batang, bola, jarum, oval, kotak, dan bentuk T (untuk bakteriofage – virus yang menyerang bakteri)
Reproduksi Virus
Fase Daur Litik
a) Absorpsi: proses menempelnya ujung ekor bakteriofage pada dinding sel bakteri (sel inang). Di dinding sel inang terdapat protein tertentu yang dikenali dan ditempeli protein virus.
b) Penetrasi: Setelah virus menempel, terbentuk lubang yang menghubungkan virus dengan sel inang. Terjadilah perpincahan asam nukleat virus kedalam sel bakteri.
c) Replikasi: virus akan menggandakan dirinya sendiri setelah sebelumnya merusak DNA inang dan mengambil perannya. Virus bereplikasi berulang kali sehingga terbentuk banyak molekul DNA virus.
d) Sintesis: Virus akan membentuk selubung protein yang baru dengan menyintesis protein virus menggunakan ribosom inang. Kini komponen-komponen virus telah terbentuk.
e) Perakitan Komponen-komponen virus yang telah terbentk akan dirakit menjadi virus-virus baru yang utuh.
f) Lisis: Setelah virus baru terbentuk, virus-virus ini akan keluar dari dinding sel dan melisiskan dinding sel inang dan kemudian siap menginfeksi sel inang lainnya.
Fase Daur Lisogenik
a) Penggabungan: Bila virus memasuki daur lisogenik, setelah absorpsi dan penetrasi akan terjadi penggabungan asam nukleat virus dnegan asam nukleat sel inang. DNA virus akan bergabung dnegan DNA inanggnya (DNA bakteri) menjadi gen asing yang tidak aktif (profag).
b) Replikasi: Profag akan ikut membelah saat sel inangnya membelah diri sehingga dari satu sel inang akan didapatkan dua sel anak yang terdapat profag.
Peran Virus
Umumnya virus memiliki peran yang merugikan karena menyebabkan penyakit. Peran virus adalah sebagai berikut:
Virus pada manusia
a) Orthomyxovirus penyebab influenza
b) H5N1 penyebab flu burung
c) HIV penyebab AIDS
d) Rubella penyebab campak
e) Hepatitis penyebab penyakit hepatitis A, B, C, D, E
a) Tobacco Mosaic Virus (TMV) menyebabkan penyakit mosaic pada tumbuhan tembakau, kacang, kedelai, tomat, dan kentang, Virus menyebabkan timbulnya bercak kuning pada daun.
b) Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) merupakan penyakit pada tanaman jeruk yang menyebabkan kerusakan pada phloem
c) Turnip Yellow Mosaic Virus (TYMV) menyebabkan daun menggulung pada tumbuhan tembakau, kapas, dan lobak
d) Virus tungro disebabkan oleh hama wereng yang menyerang tumbuhan padi
3. Virus pada Hewan
a) Virus penyebab sakit mulut dan kuku pada ternak sapid an kerbau (foot and mouth disease)
b) Rhabdovirus penyebab rabies pada anjing dan kucing
c) Virus penyebab tetelo pada ayam (Newcastle Disease)
d) Avian Influenza Virus penyebab flu burung pada unggas
Kemampuan virus untuk menyisipkan DNA pada kromosom bakteri juga memberikan manfaat bagi manusia yaitu teknik rekayasa DNA dalam teknologi rekombinasi DNA.
ARCHAEBACTERIA
Kingdom ini memiliki ciri umum berukuran renik, tidak memiliki membran inti sel (prokariotik), protoplasma tidak terdiferensiasi, memiliki lapisan lendir, dinding sel, membran plasma, sitoplasma, kromosom, dan ribosom. Archaebacteria berkembang biak dengan pembelahan biner, pembentukan tunas, dan fragmentasi. Archaebacteria dibagi menjadi tiga kelompok utama:
a) Metanogen
Bakteri metanogen menggunakan H2 untuk mereduksi CO2 menjadi gas metana (CH4). Metanogen bersifat anaerob dan kemosintetik. Habitat metanogen adalah lingkungan tanpa oksigen, misalnya di lumpur, rawa, dan perut hewan seperti saluran pencernaan sapi. Metabolisme metanogen menghasilkan gas metana yang disebut juga sebagai biogas (contoh: Methanobacterium)
b) Halofilik Ekstrem
Bakteri halofilik ekstrem hidup di lingkungan dengan kadar garam tinggi, seperti danau air asin, tambak laut, atau laut mati. Koloni bakteri halofilik ekstrem menghasilkan pigmen berwarna merah ungu, yaitu Bakteriorodopsin. (contoh: Halobacterium halobium, hidup di tambak laut)
c) Termofilik Ekstrem
Bakteri termofilik ekstrem hidup di lingkungan bersuhu tinggi dan asam. Suhu optimum lingkungan untuk bakteri termofilik berkisar 60-80 oC. Derajat keasaman bakteri ini bisa mencapai pH<2. Archaebacteria jenis ini hidup dengan mengoksidasi sulfur. (contoh: Sulfolobus).
Peran archaebacteria
Archaebacteria berperan membantu dalam pencernaan makanan hewan memamah biak. Enzim dari Archaebacteria juga diberikan pada detergen atau sabun cuci untuk meningkatkan kemampuan pada suhu pH tinggi. Pembuatan biogas juga memanfaatkan bakteri metanogen. Beberapa jenis archaebacteria digunakan untuk mengatasi pencemaran misalnya pencemaran minyak di laut. Belum ditemukan adanya bakteri archaebacteria yang menyebabkan penyakit pada manusia.
EUBACTERIA
Bentuk BakteriEubakteria beranggotakan organisme yang biasa disebut sebagai bakteri. Kingdom ini memiliki ciri umum berukuran renik (5-10 mikron), tidak memiliki membran inti sel (prokariotik), protoplasma tidak terdiferensiasi, memiliki lapisan lendir, dinding sel, membran plasma, sitoplasma, kromosom, dan ribosom. Eubacteria berkembang biak dengan pembelahan biner, pembentukan tunas, dan fragmentasi.
Bentuk Bakteri
Selain bentuk, letak dan jumlah flagellata juga berbeda-beda. Berdasarkan letak dan jumlah flagellata, bakteri dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
Monotrik: memiliki satu flagellum di salah satu ujungnya
Lofotrik: pada salah satu ujungnya memiliki beberapa flagellata
Amfitrik: masing-masing ujung memiliki satu flagellum
Peritrik: seluruh tubuh diselubungi flagela
Struktur Bakteri
Kapsul : lapisan lender bagian terluar bakteri yang berfungsi sebagai pertahanan diri
Dinding sel : tersusun dari peptidoglikan yang berfungsi untuk melindungi bagian dalam sel dan memberikan bentuk tubuh. Struktur penyusun dinding sel membuat bakteri bisa dikelompokkan menjadi bakteri gram positif (apabila berwarna ungu bila diberi pewarna gram) atau gram negative (apabila bewarna merah muda bila diberi pewarna gram)
Membran plasma : tersusun dari fosfolipid dan protein, bersifat permeable, berfungsi sebagai alat transport zat dari luar ke dalam sel
Flagelum (jamak: flagella) : berfungsi sebagai alat gerak
Pilus (jamak: pili) : berfungsi sebagai alat untuk melekat ke permukaan, berguna saat reproduksi seksual (konjugasi)
Plasmid : DNA nonkromosom yang berbentuk melingkar dan dapat berpindah ke bakteri lainnya.
DNA : substansi genetis bakteri yang berada dalam sitoplasma
Ribosom : berperan dalam sintesis protein
Reproduksi Bakteri
Pembelahan Biner: bakteri membelah diri dari satu sel menjadi dua sel.
Rekombinasi DNA
Terjadi pertukaran materi genetis melalui:
a) Konjugasi : pertukaran materi genetus melalui penghubung atau tabung konjugasi. Terjadi penggabungan sitoplasma (plasmogami)
b) Transformasi : perpindahan plasmid dari satu sel ke sel yang lain
c) Transduksi : perpindahan materi genetis melalui perantara bakteriofage
Cara Hidup Bakteri
Berdasarkan cara memperoleh makanannya bakteri dibedakan menjadi:
Bakteri Heterotrof
Bakteri ini memperoleh makanannya dari substansi organic. Dibedakan menjadi:
a) Bersifat saprofit: memperoleh makanan dari sisa-sisa makhluk hidup (contoh: Eschericia Coli berperan dalam pembusukan makanan di saluran pencernaan manusia)
b) Bersifat parasite: memperoleh makanan dari makhluk hidup lain dan bersifat merugikan bagi makhluk hidup tersebut (contoh: Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC)
2. Bakteri Autotrof
Bakteri ini dapat mensintesis makanan dari substansi anorganik. Dibedakan menjadi:
a) Fotoautotrof: melakukan fotosintesis (contoh: Rhodobacter sp.)
b) Kemoautotrof: melakukan kemosintesis (contoh: Ferrobacillus ferrooxidans)
Berdasarkan kebutuhan oksigennya, bakteri dibedakan menjadi:
Bakteri Aerob: bakteri yang metabolisme energinya memerlukan oksigen bebas (contoh: Nitrosomonas)
Bakteri Anaerob: bakteri yang tidak memerlukan oksigen untuk proses respirasinya. Apabila bakteri sama sekali tidak bisa hidup di lingkungan yang ada oksigennya, maka disebut anaerob obligat (Contoh: Clostridium tetani)
Peran Bakteri
Peran yang bermanfaat antara lain:
Rhizobium: bersimbiosis dengan akar tumbuhan kacang-kacangan untuk mengikat nitrogen
E. coli: membantu pembusukan makanan di usus besar dan menghasilka vitamin K yang membantu pembekuan darah
Lactobacillus bulgaricus: berperan dalam pembuatan yoghurt
Acetobacter xylinum: untuk pembuatan nata de coco
Acetobacter aceti: digunakan dalam pembuatan asam cuka
Pseudomonas denitrificans: untuk menghasilkan vitamin B12
Lactobacillus casei: berperan dalam pembuatan keju
Nitrosomonas dan Nitrosococcus: berperan dalam proses kesuburan tanah
Streptomyces griceus: menghasilkan streptomisin (antibiotik)
Streptomyces venezuelae: menghasilkan kloramfenikol (antibiotik)
Pengikat nitrogen bebas di udara:
a) Rhizobium leguminosarum
b) Rhizobium radicicola
c) Azotobacter
d) Rhodospirillum rubrum
e) Clostridium pasteurianum
Rhizobium leguminosarum dan Rhizobium radicicola bersimbiosis dengan tanaman Leguminosae (kacang-kacangan). Sementara itu, Azotobacter, Rhodospirillum rubrum, dan Clostridium pasteurianum hidup secara bebas.
Peran yang merugikan:
- Parasit pada manusia:
a) Salmonella typhosa: penyakit tifus
b) Mycobacterium tuberculosis: penyebab TBC
c) Treponema pallidum: penyakit sifilis
d) Shigella dysentriae: penyakit disentri
e) Diplococcus pneumonia: penyakit radang paru-paru
- Parasit pada tumbuhan
a) Pseudomonas catteleyae: penyebab penyakit pada anggrek
b) Pseudomonas solanacearum: penyebab penyakit layu pembuluh pada tanaman kentang, karet, tembakau, tomat, dan kacang tanah
c) Xanthomonas citri: kanker pada batang jeruk
d) Erwinia tracheiphila: penyakit busuk daun pada labu
- Parasit pada hewan
a) Bacillus anthracis: penyebab penyakit antraks
b) Mycobacterium avium: penyebab penyakit pada unggas
c) Balantidium coli: bengkak pada rahang sapi
Ganggang Hijau-Biru (Cynanobacteria)
Cyanobacteria atau ganggang hijau-biru termasuk dalam kelompok bakteri dengan ciri-ciri berikut:
Inti tidak diselubungi membran
Umumnya uniseluler, ada yang membentuk filament atau koloni
Tidak memiliki flagella, bergerak dengan gerakan luncur
Dapat berfotosintesis
Memiliki pigmen fikosianin yang menyebabkan warna hijau kebiruan
Habitat di perairan atau area yang lembap
Ganggang hijau biru bereproduksi dengan cara sebagai berikut:
Pembelahan biner: terjadi pada ganggang uniseluler. Dari satu sel akan dihasilkan dua sel anak.
Fragmentasi: Salah satu bagian tubuh ganggang putus dan membentuk fragmen-fragmen yang berkembang menjadi individu baru. Terjadi pada ganggang berbentuk filamen.
Pembentukan endospora: Spora disebut dengan akinet yang dibentuk untuk bertahan hidup saat kondisi lingkungan kurang baik.
Ganggang hijau biru memiliki peran antara lain sebagai sumber protein bergizi tinggi (Spirulina), sebagai pupuk hijau (simbiosis ganggang Anabaena azollae dengan tumbuhan Azola piñata), dan peran merugikan, yaitu menyebabkan kematian makhluk hidup dalam air (Anabaena flosaquaae dan Microcystis).
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Friendly reminder that your body contains roughly 2-3 pounds (.097 - 1.361kg) of bacteria in your body at any given point as well as countless varieties of archaebacteria that few people could identify or tell you about in depth. In a way your body is just as much a community as an individual species.
Sources: Cellular Biology professor, verified further at this site.
The idea that modern cells evolved from primitive cells that combined symbiotically was born in the late 19th century. The French botanist Andreas Schimper observed the behavior and appearance of plant chloroplasts closely resembled a type of bacteria and suggested that the plant cells arose from the fusion of the bacteria and another cell.
Eventually this idea became the theory of endosymbiosis. Endosymbiosis was championed by Lynn Margulis, a well-known biologist and wife of one of the best scientific communicators, Carl Sagan. Margulis hypothesized that two main elements of the cell, the nucleus and mitochondria, were actually different organisms in some ancient world billions of years ago. She further theorized that these organisms came together forming a new chimeric organism. [So-called because the beast from Homer's Iliad, the Chimera, was a weird mix of creatures; lion in front, goat in the middle and snake behind - so today animals that are a mixture different species are called chimeras].
The invasion of one organism by another was thought to confer a selective advantage to the combination, and it lived on. This is called endosymbiosis and its study has become an entire field of human endeavor. Endo- because the organisms wind up living inside each other and -symbiosis because the result is better at sticking around than each of the bits separately. Symbiosis is when is when one thing helps another and vice-versa. Each organism brought something to the party and the modern cell was born. How this happened, or when is not known.
In any event a long time ago when the cell first came into being presumably the result of favored chemistry in reasonably short order it is thought that the different characteristics appeared. At some point these organisms began to attack each other and try to eat the opponent as in predator prey relationship. But one guy was not sufficiently strong, cleaver, whatever, enough to win out over the other guy and they started to cohabitate in the same space, literally in the same bag. As millennia and epochs passed by these chimeras stabilized and took over many niches in the world of the time. Eventually they became part of larger collections of cells that ultimately were plants and animals.
Shmoop Editorial Team. "Evolution and Glycolysis and Cellular Respiration." Shmoop.com. Shmoop University, Inc., 11 Nov. 2008. Web. 19 Dec. 2013.
http://www.shmoop.com/cell-respiration/evolution.html
This process is dramatically visible in plant cells where the photosynthesizing green chloroplasts that convert sunlight to energy appear so similar to cyanobacteria that most scientists believe that green algae developed from a primitive cell consuming the bacteria by enveloping it. The bacteria is now inside the cell and wrapped in its own membrane but also that of the cell.
These algae eventually developed into modern plants after millions and millions of years. This also is believed to have happened with mitochondria. Both chloroplasts and mitochondria have circular DNA just like bacteria but unlike the DNA in our nucleus. The mitochondrial and chloroplast DNA copies itself like our nuclear DNA but independently of it and the mitochondrial DNA has fewer than 20,000 base pairs while the nuclear DNA has 3 billion base pairs. [In case you missed our post on DNA, you can find it here].
A very cool story of how the mitochondria got eaten and then stabilized is presented by Margulis and Dorian Sagan (Lynn and Carl's son). The cyanobacteria we mentioned above accrued in vast numbers over the Earth eons ago. They created huge amounts of new minerals as byproducts of the photosynthetic reaction [photosynthesis is the conversion of light to available energy] and eventually large amounts of oxygen were left over.
Ironically oxygen is a very toxic substance, it is highly reactive and capable of doing great damage. In our primordial world this oxygen destroyed a lot of primitive life. Some bacteria developed with specialized protective enzymes and survived. These bacteria developed into organisms that could with remarkable efficiency convert sugar into ATP [we saw in the last post that ATP is the source of energy for us]. Ancient bacteria, called archaebacteria, that lacked this remarkable ability were attacked by this new oxygen loving bacteria. The match was a draw and the old fashioned low energy producing bacteria co-opted the high efficiency oxygen loving bacteria by "swallowing" it whole. The "consumed" bacteria became our mitochondria!! This have been proven by showing the sequence of base pairs in the mitochondrial DNA is very much the same as that of the bacteria.
So this means that mitochondria have their own DNA and their own genes. They help our cells immeasurably, we couldn't exist without them and not surprisingly a number of serious diseases happen because of mistakes in the mitochondria. We mentioned in the last post that all of our mitochondria are inherited from Mom's egg and not from Dad's sperm, so the mitochondrial genes come from Mom. Meaning that mitochondrial mistakes and related diseases are inherited from our mothers.
All of the children of an affected mother will have the disease genes, but to varying degrees. Recent experiments show that since the mitochondria are randomly distributed to Mom's eggs if there is a disease gene it is a kind of game of chance which children have it and which don't. When several genes are involved the severity of the disease will be different among the children. There is a dramatically large number of disease states related to mitochondrial DNA mutations and they can result in blindness, deafness, brain abnormalities and muscle disease. Research into how these genes (and the mutations in them) cause disease offers the best hope of eliminating them!
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.