More About Alpha Girls
Aku baru aja rilis Tukar Isi Kepala di Podcast Almosphere yeaaay! di episode ke 12 ini aku lumayan lebih niat sih, episode sebelumnya mungkin ada baca baca dari beberapa artikel, tapi lebih banyak yang ga sama sekali karena ngobrol santai aja hehe. Nah buat episode ini aku beli buku hehe spesial banget khaan. Trus aku iseng juga buat rising awareness di Instagram bikin polling sama open questions box tentang topik yang bakal diobrolin di episode ke 12. Udah deh gitu aja curcol dapur rekamannya.
Topik obrolan di episode 12 bahas tentang alpha girls. Udah cukup lama sih aku tau istilah ini, dari komen yutub, artikel populer; dan seperti biasa aku yang suka sama istilah-istilah unik jadi kepo tuh apalagi ini tentang empowering women kan rame ya banyak campaignnya, darimanapun ideologi yang menyuarakannya.
Cuman karena saking asiknya ngobrol sama Fira, teman ngobrol di episode 12 ini, aku lupa bahas hasil dari polling Instagram hehe ga ditulis sih jadi talking points -,- Soo, aku mau bahas hasilnya disini sekaligus nambah insight dari apa yang aku dapet setelah ber#TukarIsiKepala dan baca lagi The Alpha Girlâs Guide karya Om Henry Manampiring. Kalau ada yang mau dengerin podcastnya, bisa langsung ke Spotify atau Anchor.
Jadi aku bikin polling Instagram dengan pertanyaan âHaruskah semua cewe menjadi alpha?â dan hasil polling di akun @aliyanurarifaâ yang bukan influencer ini adalah 47% untuk jawaban âiya dongâ dan 53% untuk jawaban âga harus sihâ.
Votersnya sedikit sih cuma 47 dari total viewers 491. Yaah dikit banget partisipasinya, jangan pada golput dong, bentar lagi mau pilkada neeh wkwk. Oke balik lagi, cukup satirnya hehe :v
Lalu apa yang menarik dari hasil polling ini? Menurutku nih ya, semua orang setuju aja kok kalau cewe tuh pada jadi cewe smart, independen, dan anti galau kaya subheading buku The Alpha Girl's Guide, cuman dengan ketentuan berlaku. Kalau dari temen temen di Instagram mereka bilangnya "ga lupa kodrat" "asal ga nyebelin" "gamau ah males" "kalau ga ada alfa, yauda ke indomaret aja" (??). Ini suara para cowo sih banyaknya, ada yang ngerasa dia dominan jadi males kalau harus ngadepin cewe yang dominan juga hehe. Kalau para cewe banyaknya setuju kalau kita harus mandiri, punya mimpi dan cita-cita tinggi, asalkan tetap sesuai koridor yang ada (koridor apa nih? Islam deh ya insya Allah hehe).
Kalau diliat yang jadi "batasan" alpha girl dalam berdikari (ceileh bahasanya) itu ketika berhadapan dengan pasangan ya. Istilah "jangan lupa kodratnya" itu merujuk ke peran perempuan sebagai istri dan ibu ga sih yang baktinya harus ke suami? Secara kodrat kan yang membedakan perempuan dan laki-laki itu di aspek biologis ya. Perempuan dikasih kelebihan bisa hamil, melahirkan, menyusui udah sekaligus dengan fitrah menyayangi, mengasihi, merawat, dsb. Nah ini kan yang mesti ada, seharusnya peran istri dan ibu juga ga ngehambat mimpi-mimpi dia dong dalam berkarir atau berkarya. Walaupun realitanya hidup bakal berubah banget ya setelah menikah. Duh aku belum ngalamin, sotoy banget ngomong ginian.
Aku jadi keinget diskusi di grup WA yang dipancing oleh Fira, that's why I invite her to my podcast. Dia nanya "peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat itu apa, trus sering bentrok ga sih antara karir dan keluarga". Bahasan kaya gini mungkin bakal terus rame ya, dilematis banget buat para ukhti, seolah IRT selalu vs wanita karir.
Dari jawaban teman-teman yang lain banyak yang mention "asal suami ridho" "makanya penting banget nyari pasangan yang sekufu sevisi misi". Di buku The Alpha Girl's Guide juga ada bagian Alpha Lover, khusus bahas masalah percintaan, bahkan sampe ada rekomendasi Alpha Female cocoknya sama Beta Male yang ga terlalu mempermasalahkan dominansi jadi cenderung suportif. Ya tergantung kali ya itumah asalkan nerima satu sama lain, lika-liku keluarga kan beragam (hadeu ngomong apa kamu, Nona).
Nah trus intinya kamu mau nulis apa Al? Hm jadi gini, aku dapet kesimpulan dari pengalaman orang yang sudah lebih berpengalaman dalam rumah tangga, intinya kalau kita "sadar peran" dan ngejalanin itu sebagai bentuk ibadah seorang hamba insya Allah tetap bahagia kok apapun tantangannya. Berlaku untuk semua tipe, entah alpha, beta, gamma, omega, delta, sigma. Mungkin yang sering dipermasalahin para feminis ketika istri tuh manut aja sama suami, ga punya kuasa sama sekali. Padahal kan istri itu ngelakuin bakti ke suami sebagai bentuk penghambaannya, alasan personal antara dia sama Tuhannya. So what's wrong? Yang salah kalau suaminya dzolim :v
Dan yang penting lagi, sadar peran ini ga cuman tugas perempuan, istri, ibu; tapi juga berlaku buat laki-laki, suami, bapak. Aku seneng sama statement Fira di podcast, "laki-laki dan perempuan itu menikah bukan karena tuntutan sosial, tapi untuk membangun keluarga yang ideal" itu awalnya kita bahas stereotipe perempuan yang ga nikah nikah sering diomongin, berlaku buat laki-laki juga sih.
Trus balik lagi ke tipe tipe tadi, ternyata setelah dilihat, semua tipe punya keunggulannya masing-masing. I mean, semua tipe punya kok ambisi kaya alpha cuman mungkin energi dan proses realisasinya yang beda. Trus jadi "cewe smart, independen, dan anti galau" ya kenapa engga? Penting banget kan kita nyeimbangin kemampuan emosional dan rasional. Walaupun harus ngalamin pertengkaran otak dan hati lebih sering, menurutku itu yang jadi proses belajar buat punya karakter yang lebih baik. Aku anaknya Feeling, sensi abis trus banyak dipendem, tapi nyoba buat lebih sering mikir realistis, walaupun kadang kelewat overthinking wkwk.
Eniwei aku sadar ini tulisanku kemana mana, awalnya mau bahas yang receh kenapa jadi berat ya pfft ada banyak titik yang harus dikaitkan tapi aku paksa tuliskan walaupun singkat-singkat. Emang harus belajar lagi nih, sekalian persiapan kan? Ohiya kalau ada rekomendasi "pelajaran" buatku boleh kabarin ya hehe. Makasiy~
Aliya, seorang Beta Female yang dulu mengira dirinya Alpha, sedang mengetik karena tidak bisa tidur sebelum nulis ini. 1:59 waktu Balikpapan. Bye~















