Seperti berlayar menuju segitiga bermuda
Atau telanjang di tengah dinginnya kutub utara
Kamu sudah menerka hal-hal seperti ini akan terjadi
Jika kamu memaksa menumpangi si gerbong besi
Menuju arah Ibu Kota
Demi bertemu Matahari
Kamu merindu pada Sang Matahari, kan?
Dia juga rindu padamu, Bulan.
Disaat kedua fenomenal ingin bersatu
Namun terang dan gelap tidak bisa menjadi satu
Itu hanya sebagian rintangan
Bagaimana jika menceritakan kisah disaat Bulan dan Matahari sempat terjebak di dalam Lubang Hitam yg amat kelam?
Kisah perpisahan mereka, membawa Pluto dan Neptunus didalamnya.
Bulan ke dua belas, hari ke empat belas, MMXIX.
Adalah hari dimana Bulan dan Matahari menamatkan untuk berparak.
Hari yang menjadi mimpi buruk bagi keduanya.
Matahari menjalani harinya tanpa Bulan.
Bulan menjalani harinya tanpa Matahari.
Hampa,
Hanya kemurungan dan kepedihan yang menemani Sang Dua.
*** Bulan ***
Sampai hari ke tiga puluh, Bulan menemui Neptunus untuk meluputkan kesedihannya.
Bulan senang dengan kehadiran Neptunus, yang sedikit membantu melepaskan kegetirannya.
Lupa sesaat dengan Matahari, ia memberitakan pada Semesta atas hubungan barunya dengan Neptunus.
Bulan hilang rasa, ia tidak lagi mengingat Matahari.
Rasa sakit yang ia derita, seketika tersembuhkan oleh Neptunus.
Hingga pada saatnya Neptunus meninggalkan tanpa alasan.
Bulan kembali bersedih, menyadari bahwa Neptunus hanya memperdayakan kelemahannya.
Meratapi kesendirian, bersama malam beserta segala ingatan.
Oh, Bulan yang malang...
*** Matahari ***
Raungan Semesta sampai kepada Matahari.
Ia tergemap, meronta.
Secepat itu kah Bulan menggantikan dirinya?
Setelah sekian lamanya mereka bersama?
Matahari menangis..
Bulan yang ia sayangi, bukan miliknya lagi.
Perangai Bulan membuat hatinya sangat pilu.
Kepiluannya menghasutnya menjadi Si Merah Matahari.
Sampai pada hari ke dua puluh, bulan satu MMXX
Matahari menyampaikan secara terang pada Semesta.
"Ini aku Matahari, bersama pasanganku Pluto"
Matahari membanggakan Pluto-nya untuk mempertunjukkan keberhasilannya dalam menggantikan Bulan.
Semesta bersorai kepadanya, "Apa kamu yakin kamu tidak merindukan Sang Bulan?"
"Aku sangat yakin, Bulan hanyalah masa lalu. Aku mencintai Pluto" Sahut Matahari dengan angkuh dan sok hebat.
Kemudian, sampailah pernyataan itu kepada Bulan.
Kedengkian Matahari terhadap Bulan, menjadikan Matahari Senja berubah layaknya Matahari Merah.
Pluto nan lugu terlihat sangat naif dengan kemunafikan Matahari.
Semesta tidak tahu bahwasannya Matahari sudah kesekian kali mencoba menemui Bulan.
*** Bulan ***
"Benarkah yang kamu katakan?" tanya Bulan pada Bumi.
"Iya, aku melihatnya berkata pada Semesta"
"Aku tidak menyangka" sahut Bulan merunduk, menerima kenyataan pahit bahwa Matahari Senja-nya telah berbeda.
Ia merasa kesal dan marah atas pengkhianatan Matahari.
Selama ini, Matahari berusaha menghubunginya.
Matahari berusaha menemuinya.
Tentu saja Bulan menolak, sementara Matahari lancar menjalankan aksi sok-hebatnya di muka Semesta.
Itu sebabnya Bulan menjadi murka.
Tibalah saatnya Bulan mengaum pada Semesta, memberitahukan apa yang terjadi sesungguhnya.
Seketika Semesta membenci Matahari.
Sementara itu, Matahari mengancam untuk mempermalukan Bulan dengan caranya.
Pertengkaran antara Bulan dan Matahari pun semakin mengeruh.
Mereka saling membenci!
_________________________________________________________
Setelah sekian lama, Matahari dan Bulan merasakan kerinduan yang mendalam.
Kebenciannya tertutup oleh kenangan manis selama mereka berdua bersama.
Hari ke dua puluh sembilan, bulan empat MMXX
Matahari menemui Bulan.
Pertemuan antar keduanya membawa kembali rasa yang pernah ada.
Keduanya menangis..
Menyesali apa yang telah mereka perbuat.
Sementara Semesta melihat,
Memaafkan keduanya.
Tata Surya kembali elok.
Karena Bulan dan Matahari kembali bersatu.
Dengan demikian, mereka saling menggenggam erat.
Inilah terang dan gelap,
Yang memang sudah menjadi kodrat.