Al-'Alim (العليم)
Dialah yang meliputi dengan ilmu-Nya segala sesuatu yang lahir batin, yang halus, yang besar, yang permulaan, yang akhir, pembukaannya, dan penutupnya. Itu adalah dari segi kejelasan dan ungkapan yang sesempurna mungkin; tidak ada yang lebih jelas darinya.
Dikatakan bahwa makna Al-‘Alim itu ialah yang melaksanakan ilmu, yaitu sifat yang qadim yang tegak bersama dzat Allah SWT, berkaitan dengan maklumat-maklumatvyang wajib, ja’iz, dan mustahil. Allah SWT mengetahui Dzat-Nya, asma-Nya, sifat-Nya, dan Dia juga mengetahui apa-apa yang sudah dan akan terjadi dari segala sesuatu yang ja’iz dan mengetahui apa-apa yang mustahil, dan mengetahui apa-apa yang gaib. Hanya Allah sendirilah yang mengetahui kapan akan turun hujan, dan mengetahui apa yang akan diusahakan oleh setiap orang dan di negeri di mana ia akan mati.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa seseorang hamba itu mendapatkan bagian dari sifat ilmu ini tetapi berbeda dengan ilmu Allah dalam tiga perkara, pertama, dari banyaknya pengetahuan. Betapapun luasnya pengetahuan seorang hamba, hal itu masih terbatas. Bagaimana akan dibandingkan dengan ilmu Allah yang tidak ada ujung dan batasnya? Kedua, bahwa kasyaf (Melihat dengan mata batin) seorang hamba itu, bagaimanapun jelasnya, ia tidak bisa mencapai tujuan yang tidak ada ujungnya lagi; penyaksiannya terhadap sesuatu itu ibarat ia melihatnya dari balik tirai tipis. Tidak dapat diingkari adanya perbedaan dalam derajat kasyaf itu, sebab pandangan mata batin ibarat mata lahir dalam memastikan segala sesuatu yang dipandangnya, seperti perbedaan antara melihat di kala remang-remang dan melihat di kala waktu terang-benderang. Ketiga, bahwa ilmu Allah itu tidak diperoleh dari sesuatu, namun sesuatu itulah yang mendapatkannya dari-Nya, Sedangkan ilmu seorang hamba itu mengikuti sesuatu dan dihasilkan darinya.
Jika anda masih kurang memahami penjelasan ini, maka ambil contoh ilmu seeseorang yang baru belajar catur dan orang yang membuatnya, misalnya. Si pembuat catur menjadi sebab adanya catur, dan adanya catur itu menjadi sebab ilmunya si pelajar catur. Namun ilmu si pembuat catur lebih dahulu dengan mengadakan catur itu, sedangkan ilmu orang yang belajar catur itu terakhir, Demikian pula halnya dengan ilmu Allah SWT; ia mendahului segala sesuatu dan menjadi sebab baginya.
Sumber: Buku 99 Nama Allah (Asmaul Husna), Musholla Prasetiya Mulya

















