Musik rock God Bless pimpinan Ahmad Albar mengadakan pertunjukan yang kedua di teater terbuka TIM. Tak didukung penonton karena lagu-lagunya tak akrab dengan penonton dan memekakkan telinga.
Empat orang pemain biola dan seorang penggesek cello, mati kutu di panggung Teater Terbuka TIM. Itu terjadi selama dua malam pertunjukan rombongan musik rock God Bless, tengah bulan Juni, tepat ketika di bawah Monas orang membuka Pekan Raya Jakarta ke-7 yang dahulunya bernama Djakarta Fair.Â
Dalam amukan suara-suara dahsyat yang meraung dan menggeram dari instrumen listrik Debby, Donny, Odink, dan Fuad, kelima korban yang berasal dari Orkes Musik Studio Jakarta itu sungguh memelas kelihatan menggerak-gerakkan tangan tanpa menimbulkan bunyi. Sementara asap buatan meruap di lantai pertunjukan, sedang di udara bertaburan bola-bola sabun yang keluar dari peralatan diskotik klab yang bernama Merindink.
Para penonton yang tumpah padat bahkan banyak yang ketinggalan di luar tempat pertunjukan-- terpaku di tempat mereka. Tidak jelas karena kaget atau ikut melayang dalam gelora musik yang bagi kuping-kuping biasa cukup memekakkan itu. Mereka memang ingin sekali melihat Ahmad Albar, bekas pemain film Jenderal Kancil yang kini bertubuh panjang kurus dan berambut bundar seperti tomat.
Ia memegang tangkai pengeras suara, berusaha menyuguhkan sebuah show yang menarik dengan lagu-lagu yang nampaknya tidak begitu akrab dengan penonton. Ia langsung menjadi pembawa acara dengan suara terengah-engah, sehingga kedudukannya sebagai bintang malam itu lengkap dengan pakaian aneh dan menarik jadi agak ternoda.
Seharusnya ia tidak usaha berbicara tetapi menyanyi, sambil menyuruh lampu panggung dimatikan kalau memang mau mempersiapkan nomor berikut. Maklum bakatnya sebagai pembawa acara kelihatan kurang walaupun aksinya dalam membawakan lagu lumayan menariknya.
Ngobral Energi
Pertunjukan malam pertama berlangsung kurang bersemangat, karena tampaknya Ahmad sendiri agak ragu-ragu. Demikian juga grup Hooker Man yang mendampinginya tidak memberikan imbalan yang baik, malahan merusak suasana --di samping karena mereka datang begitu terlambat tetapi masih pula petantang-petenteng di belakang panggung. Kesempatan esok malamnya untung saja berakhir lebih baik.Â
Meskipun kebanyakan yang datang tetap saja merasa asing dengan rock yang rupanya sejenis dengan musiknya Emerson, Lake & Palmer itu, Ahmad memang hanya menampilkan lagu-lagu orang lain. Pada beberapa paduan suara yang pelan para penonton sibuk mengeplokkan tangan --dan itu boleh diambil pertanda bahwa kebanyakan yang hadir masih lebih membutuhkan lagu-lagu agak halus dan manis.Â
Dari segi penampilan, God Bless cukup mantap kesadaran panggungnya. Penguasaan instrumen menonjol pada Fuad Hasan yang memukul-mukul drum dengan hiruknya. Demikian juga Donny yang memegang bas gitar, menyanyi sambil berusaha menarik perhatian publik dengan aksi ini dan itu.
Tetapi sebagaimana grup-grup rock pribumi, pemain-pemain yang memakai sepatu lars ini terlalu mengobral energi serta kurang memantapkan suara manusia baik solo maupun paduan dalam musik. Jelas kelihatan Ahmad Albar sebagai lead vocal mempunyai materi suara yang bagus dan kemampuan teknis lumayan --tetapi dengan lagu-lagu yang dipilihnya, kebolehannya seperti terhisap. Lucu juga kelihatan sejumlah anak-anak gadis SMA yang dipajang dalam dua kelompok untuk menjadi bagian koor dalam sebuah nomor. Karena kurang diberi kesempatan untuk sedikit muncul, suara mereka tertutup banjir jreng-jreng sehingga mereka tidak lebih dari tontonan mata yang sama nasibnya dengan para penggesek biola yang malang.
Susila
Ini pemunculan God Bless yang kedua di TIM. Tetapi sejauh ini, sudah satu tahunan umurnya, mereka belum mempunyai rekaman piringan hitam. Mungkin akan agak lain suasananya seandainya mereka sudah mempopulerkan beberapa buah lagu khas yang dikenal orang banyak --meskipun kelihatannya agak sulit, sebab Ahmad bilang kalau toh mendapat kesempatan rekaman ia akan mempertahankan jenis musiknya.
Mereka tidak ingin seperti AKA yang begitu galak di panggung tetapi menjadi tersipu-sipu dan lemas dalam album. Memang agak sukar menuliskan angka berapa yang bisa diberikan untuk pertunjukan yang kemudian pada lagu-lagu terakhir ditinggalkan sebagian penonton itu, baik malam pertama maupun kedua.
Yang jelas God Bless jauh di atas kalau dibandingkan Hooker Man yang kebetulan kelihatan agak congkak meskipun mainnya kurang mantap. Mungkin harus dikatakan terlebih dahulu bahwa ada perbedaan selera antara kebanyakan penonton dan God Bless yang rupanya bersikeras untuk setia pada rocknya meskipun tahu bahwa irama-irama soul akan lebih mudah diterima hadirin.
Padahal Ahmad Albar ketika ditanya giliran, menjawab ragu-ragu, “Apa ya? Sebetulnya musik kami tidak menganut aliran apa-apa. Kami hanya memainkan musik yang kami sukai”. Dan berapa banyak ia memberi perhatian pada telinga orang yang mendengar musiknya? Ia menjawab tidak ragu-ragu. “Tiga puluh prosen”. Satu hal yang pantas diberi catatan kaki; betapa pun juga, rombongan anak-anak muda yang tidak suka main tetap di klab malam ini telah mencoba membuat panggung menarik. Baik dengan sekelompok penggesek biola yang memakai dasi kupu-kupu, sejumlah anak gadis SMA yang bergoyang ragu, cahaya warna-warni maupun gerak-gerik yang hidup dan kaya --tanpa memasukkan unsur yang menyinggung susila. “Karena kami tetap mempertahankan mutu musik tidak hanya mencari sensasi,” kata Ahmad yang pernah bergabung dengan band Clover Leaf di mancanegara itu. Boleh juga. (Putu Wijaya)
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
âś“ Live Streamingâś“ Interactive Chatâś“ Private Showsâś“ HD Qualityâś“ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ini sih namanya lebih bodoh dari kedelai/ Keledai kali, maksudnya?/ Bukan, kedelai kok. Kacang panjang aja jauh lebih cerdas dari mereka.
Orang bilang, salah satu kali itu manusiawi. Owkay dehh.
Kalau sampai melakukan kesalahan yang sama, berarti setolol keledai.
Kalau sampai tiga kali, berarti lebih tolol dari keledai.
Lha, kalau sampai 5 (lima) kali?!
Seharusnya ini penemuan menggembirakan buat asosiasi sarjana psikologi sedunia. Ada sampel segar untuk membuktikan standar baru batas bawah intelejensi manusia. Heheh.
Nuff said.