Tertatih tatih menjelajahi dunia maya untuk mengejar dunia nyata
Ragu mengabdikan diri demi masa depan akhirat malah meyakini diri bahwa masa depan dunia fana lebih menjanjikan
Dua bulan yang lalu aku berbincang dengan teman ibuku yg memberitahu kan ku mengenai pekerjaan akhirat
Sukarelawan di sebuah pesantren penuh akhlak
Tidak bisa memberikan upah besar yg membuat mata terbelalak
Melainkan beliau mengatakan bahwa tidak ada kontrak waktu untuk bekerja khidmat
Bisa lebih dari satu tahun atau selamanya di sana
Karena ini adalah pekerjaan yg diharapkan penuh pahala
Ibu begitu menunggu-nunggu jawaban "iya"ku untuk mau
Namun ketika mendengar bahwa tidak bisa sebentar untuk "bekerja" di sana
Pikiranku terbang melintasi daftar keinginan dan mimpiku
Bekerja di tempat yang sesuai dg kompetensi ku
Sebagai sensei/pengajar/ guru
Lalu mimpi yg membuat diriku termotivasi untuk bisa terbang ke negara tempat Saitama lahir, karakter favoritku
Hingga merasakan belajar mendalam dengan gelar yg tinggi
Kepalaku kalut, panik, dan muncul rasa kecut
Benar memang, aku meyakinkan diri bahwa ketika ibuku menginginkan nya aku mencoba meng iyakan
Dengan alasan selama ini aku selalu hidup dengan keinginan dan egoku
Makanya saat teman ibuk menjelaskan panjang lebar, aku hanya tertegun
Berkata bahwa akan mempertimbangkan
Hingga bisa disimpulkan bahwa aku enggan
Ibu merajuk dan menunjukan kekesalannya padaku karena keraguan ku untuk ikut dengannya bersukarela pahala di Cirebon
Sekarang aku sibuk mengejar dunia
Aku rasa menjanjikan masa depanku
Mencari pekerjaan yg sesuai akan diriku yg baru lulus ini
Dan mencoba mengekplorasi memperkenalkan diri dengan berbagai platform dunia profesional
Sudah dua bulan lebih aku melakukannya
Sempat mendapat sebuah kesempatan untuk bisa bekerja
Namun karena tdk sesuai dg potensi diri
Hingga muncul rasa remeh temeh dari keluarga akan pekerjaan ku
Akhirnya sempat training selama seminggu
Mengetahui bahwa aku harus menelpon lebih dari 100 orang per hari
Menjelaskan dg baik kepada seratusan itu
Dan ternyata terlepas dari pelatihan 5 hari itu sudah 2 Minggu tidak ada kabar untuk penempatan posisi yg lebih jelas
Kembali lagi dengan keadaan yg sama
Keadaan bingung, iri, dan mulai merasa bodoh
Inilah yg aku dapatkan setelah ragu akan panggilan kebaikan dari-Mu Ya Allah
Saat ini hatiku sedih dan mulai merasa hampa
Inginku keluarkan air mata namun tak pernah berhasil keluar dibanding aku berhasil menangis karena sebuah adegan sedih dalam film atau drama
Seperti mensyukuri akibat diri sendiri
Saatnya aku memohon ampun dan bertaubat
Dan mengharapkan bimbingan akan jalan mana yg sebaiknya aku tempuh saat ini
Serta menyemangati diri dengan mengatakan "ganbatte"