Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga,
Cita-citaku, menjadi Ibu Rumah Tangga :D
Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga.
Perjalananku menemukan makna kehidupan ini sangat panjang. Lika-liku yang kutempuh untuk dapat menemukan jalan mana yang harus ku tempuh pun sangat beragam. Setiap tanjakan dan turunan yang kulalui selalu menyisakan kenangan yang tak terlupakan. Kadang benar-benar ingin sekali aku hilang ingatan, melupakan semua kejadian di masa lalu. Namun kemudian, aku menyadari, bahwa, aku tidak akan berada di tempat ini saat ini dengan keadaan seperti ini tanpa melewati masa lalu. Barangkali itulah cara Alloh mendewasakanku, menguatkanku, mengajariku hakikat kebenaran. Mendekatkanku pada pilihan yang lebih dekat dengan keselamatan.
Dalam perjalanan itu, telah banyak kutemui, betapa banyak anak yang tumbuh besar bersama kekecewaan yang mendalam.
Banyak kutemui anak yang tidak tanggap dengan masalah sekitar, anak dengan sikap dan kata-kata yang kasar, asyik dengan games dan internetnya.
Laki-laki yang terlalu berani mempermainkan banyak wanita, wanita yang terlalu lugu bersedia menyerahkan seluruh jiwa raga bahkan kehormatannya untuk sang kekasih yang bahkan tak ada cinta di antara mereka. Berganti-ganti pasangan hanya dalam hitungan hari, saling berpelukan berpegangan tangan dengan yang bukan mahram. Bahkan masuk ke kamar kos berdua pun sudah bukan hal yang langka.
Banyak kujumpai anak muda menghisap rokok, membanting pintu, berteriak meminta uang kepada ibunya yang semakin renta.
Banyak kujumpai anak muda dengan orasinya yang berapi-api tetapi malas duduk di bangku kuliah, mengecewakan orang tua dengan surat D.O dari kampus, mereka berkata mereka mengingkari. Tengok kanan kiri, meminta jawaban teman saat ujian, kemudian berdoa, “Ya Alloh, luluskan aku dalam ujian ini”. Ah, bagaimana ini, bagaimana bisa meminta pertolongannya sedang telah nyata diri mengkhianati-Nya.
Banyak kujumpai anak muda yang enggan berlama-lama duduk bersama ibu bapaknya, enggan menceritakan kehebatan dan pengorbanan keduanya, bahkan terkadang lebih memilih hang out dengan teman-temannya daripada mengantar ibu ke pasar atau membelikan obat batuk untuk ayah.
Entahlah, tapi semua fenomena itu nyata terlihat di sekitar kita.
Harta bukan jaminan, karena telah nyata pula terlihat, bahkan banyak di antara anak-anak yang hidup bergelimangan harta justru menyepelekan guru-guru yang mendidik sepenuh hati di sekolah. Berlomba-lomba menggunakan gadget terbaru, motor model terbaru, dan segala macam benda-benda yang mahal ber-merk lainnya.
Tak jarang pula ku jumpai anak seorang pejabat justru menjadi benalu yang meresahkan masyarakat, anak seorang konglomerat menjadi pengemis kasih sayang, merusakkan keseimbangan alam demi mendapat perhatian dari orang tua yang terlalu sibuk mengumpulkan uang.
Entahlah, tapi semua fenomena itu nyata terlihat di sekitar kita.
Begitu banyak wanita yang berangkat pagi, pulang menjelang maghrib, kemudian letih, tak sempat merebus air, menanak nasi, mencuci baju, setrika, menyapu lantai bahkan yang lebih menyedihkan banyak yang akhirnya tak sempat menengok ke dalam tas anaknya, melihat apa yang ditulis anaknya di sekolah tadi, menanyakan ada cerita apa seharian tadi, duduk bersama mengajarkan alif ba’ ta’ tsa, atau…. ah ada banyak hal yang si kecil butuhkan dari ibunya, ini pilu.
Sungguh, wanita telah Alloh ciptakan dengan segala keadaannya, ia memiliki masa jeda setiap bulannya hingga tak dapat ia berjumpa Rabb nya dalam setiap sujudnya. Sungguh karena hal ini pula, wanita tertakdirkan lemah akal dan lemah imannya. Sungguh kalaulah bukan kemudahan yang Alloh berikan tentulah tidak mudah bagi seorang wanita tetap teguh dalam kebaikan. Alloh yang menciptakan wanita dengan perasaan yang lebih tajam daripada laki-laki tentulah Alloh pula yang lebih tahu apa yang terbaik untuk wanita.
Di syari’atkannya wanita untuk tetap tinggal di rumah, tidak mengenakan wewangian, tidak menampakkan perhiasannya, tidak berpergian kecuali dengan mahramnya, tidak melembutkan suara saat bercakap dengan laki-laki, dan banyak sekali penjagaan dari Alloh lainnya terhadap wanita. Sungguh semua itu semata-mata karena Alloh menginginkan wanita itu tetap mulia tetap terjaga. Hingga ia benar-benar menetapi fitrahnya sebagai hamba Alloh yang ta’at.
Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga.
Mengabdikan diri sepenuhnya untuk ta’at pada perintah Alloh, menjalankan sunnah-sunnah Rosulullah, berbakti sepenuhnya kepada suami, menjaga harta dan kehormatan suami, merawat rumah dengan kebaikan agar segala keberkahan yang Alloh janjikan datang memenuhi setiap ruangan di rumah kami.
Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga.
Apapun gelar yang menambah panjang namaku, sungguh itu tidak berarti apa-apa kecuali aku menggunakannya sebagai washilah menyemai kebaikan yang di ridhoi Alloh.
Ah, kalian tahu, bahkan saat selesai ujian pendadaran 2 Juli 2014 kemarin, tak sekalipun muncul dalam ingatanku bahwa aku sudah menyandang gelar sarjana, tak sedikitpun berpikir tentang itu, yang ku pikirkan saat itu, “Bapak, ibu, aku sudah menuntaskan amanah yang kalian titipkan, bapak, ibu, ridhoi lah 4 tahun 11 bulanku, ya Alloh, berkahilah 4 tahun 11 bulanku, ampunilah segala macam kesalahan yang kuperbuat selama ini, ampunilah aku”
Benar hanya itu yang terbayang, bahkan saat dosen bertanya berapa target ipk ku, aku tertegun, mungkin aku yang terlalu tidak peduli, hingga aku lupa berapa ipk terakhirku sebelum ujian.
Aku kuliah, aku belajar, aku berorganisasi, karena aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga.
Membekali diri dengan ilmu sebanyak mungkin, belajar tentang bagaimana menempuh jalan hidup yang benar, menerjang banyak sekali masalah, rintangan, tantangan yang menghadang.
Menyelesaikan sate per satu setiap masalah yang datang. Selama ini, memang hidupku tidak pernah tenang. Bahkan mungkin jauh dari kata bahagia. Tapi aku bersyukur, dengan segala permasalahan yang ku alami, setidaknya saat ini aku merasa jauh lebih tenang saat ini.
Saat masalah datang silih berganti, tak henti lisanku bergumam, “Ah, ini biasa, dulu aku pernah menghadapi yang seperti ini, bahkan lebih parah dari ini, dan nyatanya aku masih bisa hidup dan tersenyum, aku tidak lupa bagaimana urutan wudhu dan kedua tanganku masih kuasa menyangga tubuhku saat keningku bersandar pada lantai munajatku.”
Saat tak sepersen pun uang di saku, dan aku harus berjalan kaki menempuh jarak kampus-rumah, tak membuatku gentar, dan lagi-lagi kukatakan pada diriku,” Ah, ini biasa, dulu kamu juga pernah mengalami ini, dan nyatanya kamu tetap bisa tidur di rumah pada malam harinya”
Sebisa mungkin, sesering yang aku bisa, aku selalu berusaha menahan diri dari meminta bantuan kepada manusia, karena dalam yakinku ketika aku totalitas penuh mengharap, berdoa, dan berikhtiar untuk meminta pertolongan Alloh, maka sungguh pertolongan Alloh itu sangatlah dekat. Dan aku percaya itu, “Pertolongan Alloh, datang dari arah yang tidak disangka-sangka”.
Jelas, jalan hidupku terkesan begitu fiktif. Maka tak hendak lisanku bercerita kepada orang-orang tentang apa yang sebenarnya ku alami, karena berdasarkan pengalaman yang kemarin, saat aku terlalu percaya kepada mereka, menceritakan segala kisahku kepada mereka, bukan senyum dan semangat yang ku dapatkan, justru jiwa yang semakin rapuh yang ku peroleh. Karena tanpa ku sadari aku menjadi begitu bergantung kepada mereka hingga melupakan bahwa ada Alloh yang maha kuasa yang selalu mengetahui apapun yang terjadi dan apapun yang kulakukan.
Memang, dahulu begitu menyedihkan ketika mengetahui banyak yang mendengar kisahku tapi kemudian tidak memahaminya, lantas ikut-ikutan menyalahkan setiap kesalahan yang kuperbuat tanpa mau mengerti setiap alasan di balik itu semua.
Itu, dahulu, saat aku masih begitu bergantung pada manusia. Tapi sekarang, saat aku memutuskan untuk berlepas diri dari semua hal yang pernah membuatku jatuh, aku bersyukur, apapun keburukan masa lalu ku, setidaknya hari ini, Alloh masih mengizinkanku mengucap syahadat di setiap tahiyatku.
Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga.
Benar, aku ingin anak-anakku mengenal al-qur’an sejak ruh di tiupkan di 4 bulan usianya dalam kandunganku. Aku ingin satu tahunnya menyelesaikan hafalan jus 30 nya, aku ingin ia menjaga AL-qur’an hingga kelak saat aku tak lagi mampu menjaganya, aku sudah tenang karena jika ia istiqomah menjaga Al-qur’an pastilah Alloh kan menjadikan Al-qur’an itu penjaga dirinya.
Aku, sama sekali tidak ingin melewatkan masa sedetik pun meninggalkannya hanya demi mengumpulkan uang untuk biaya sekolahnya, karena ku yakin, setiap anak sudah dilahirkan lengkap dengan jatah rezekinya. Ku yakin, jikalau aku mengabdikan diriku sepenuhnya kepada Alloh, Rosulullah dan suamiku, Ia pasti kan mencukupkan segala kebutuhanku.
Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga.
Menyeduh kopi untuk suami, menyetrika baju untuknya sebelum ia berangkat ke masjid menunaikan sholat berjamaah, memasak sendiri setiap makanan untuk suami dan anak-anak.
Menjaga anak-anak agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang pernah ku lakukan, memahamkan kepada mereka tentang realitas kehidupan yang harus di hadapinya, ah, banyak hal yang akan kulakukan bersama mereka.
Banyak orang berkata, buat apa sekolah tinggi kalau akhirnya hanya menjadi ibu rumah tangga.
Tapi bagiku jauh lebih keren anakku nanti, ia akan diasuh oleh ibu yang telah mengenyam pendidikan sarjana, itu jauh lebih keren dibandingkan anak-anak doctor yang akhirnya hanya di asuh oleh baby sister lulusan sekolah menengah, jelas bukan hanya masalah grade pendidikan, tapi ini tentang kasih sayang. Ini tentang CINTA seorang ibu yang tidak akan tergantikan oleh siapapun.
Anakku akan tumbuh mengenalku sebagai ibunya, temannya, sahabatnya, gurunya, dan bahkan bisa jadi, suatu saat nanti aku akan lebih banyak belajar dari anakku.
Anakku akan tumbuh mengenal ayahnya, menghargai setiap jerih payah ayahnya, memahami mengapa sang ayah jarang berada di rumah, meringankan amanah dakwah yang diemban orang tuanya, dan bisa jadi, suatu saat nanti aku dan suamiku akan menjadi orang tua dari para hafidz dan hafidzah yang peka terhadap lingkungan, bermanfaat untuk manusia, memberikan banyak kontribusi yang berarti, dan membawa perbaikan pada masa nya kelak.
Aku ingin menjadi Ibu Rumah Tangga,
sebagai upayaku mengharap bertemu wajah Alloh di jannah kelak.