[Dibalik Layar]
Berawal dari ngobrol iseng di ruang Production Engineering dan mau ngisengin A untuk update IG story. Lalu A malah meminta sebuah tulisan dariku untuk ia edit menjadi gambar bertulisan (atau apaan sik namanya? hehe). Ter-post lah puisiku yang berjudul “Lalu” dengan visual yang sungguh estetik (thank you, A!). Bukan, puisinya bukan buat A, kok. Puisinya masih ditujukan untuk anonim alias belum tau siapa.
Kemudian A memintaku untuk menulis puisi, terserah dengan tema apa, untuk dijadikan video. Berbekal dengan keresahan yang sedang dirasakan, aku menulis puisi dengan judul Maneuver. Kutunjukkan ke A dan dia langsung tertarik. Kemudian kami pun berdiskusi membuat storyboard-nya.
Daaan dimulailah petualangan membuat video visual poem. Beberapa footage ada yang diambil di Jakarta, yang lainnya diambil di Jogja. Seru, sih. Setelah videonya jadi, aku tidak bisa berkata-kata. Rasanya puisiku jadi lebih hidup, lebih ngena. Senang! Thank you so much, A!
Isi puisi tersebut sebenarnya adalah pesan untuk diriku sendiri. Bahwa kalau kamu nggak nyaman dengan apa yang kamu lakukan sekarang, atau ketidaknyamanan itu justru tidak membuatmu bertumbuh, kamu harus lakukan sesuatu. (Beda kasus ya dengan ketidaknyamanan saat memperluas zona nyaman). Do not lose hope, nor be sad. Karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum tersebut tidak mengubah dirinya sendiri.
So, enjoy the video, people! Semoga pesannya sampai. :)












