Page #87
Saya pikir, tak ada siapapun yang benar-benar ingin (dengan sengaja) menyakiti orang lain. Terlepas dari tujuan tertentu, misalnya dendam. Atau karena kita juga pernah merasakan sakit yang serupa. Atau sesederhana karena kita menyayangi orang tersebut.
Entahlah. Saya pikir memang tidak. Terlebih kepada keluarga, sahabat, atau saudara sendiri. Bagaimana mungkin hubungan yang telah terbangun lama dan hangat, lalu dihancurkan dengan (sengaja) menyakiti?
Sayangnya. Sebelum berpikir sampai situ, orang-orang lebih nyaman untuk menuduh.
Ya. Menuduh.
Menuduh bahwa, kita yang tidak melakukan atau memberikan apa-apa kepada mereka (saat hari penting mereka misalnya) adalah kita yang sudah tidak peduli. Menuduh bahwa, kita yang tidak berusaha ada untuk mereka adalah kita yang tidak setia kawan. Yang tegaan.
"Teman macam apa." Begitu katanya.
Padahal yang sebenarnya terjadi... mereka tidak tahu. Mungkin tidak mau tahu. Kenyataannya kita tidak memberikan apapun. Atau melakukan apapun. Kita tidak ada untuk mereka. Itu saja, yang mereka ingin terima. Alasan dibaliknya, pasti cuma dicap sebagai...
"Alasan."
Tak ada yang bertanya. "Kenapa?" "Ada masalah ya?" "Keadaan di sana gimana?"
Tak ada.
Hanya kata imperatif dan tuduhan. Imperatif. Dan tuduhan.
Jika sudah begitu, alasan selogis atau semiris apapun, rasanya percuma diceritakan. Kalaupun diutarakan, lantas? Mengubah kenyataan? Tidak. Dipedulikan? Tidak.
All we might receive was just an "oh".
That's all.
And right after that, everything would go like nothing happened. Even worse.
And mirror mirror hanging on the wall... who is the biggest fool of all?
.
.
.
.
.
Yup. We know the answer :)
20:33 || On The Way














