Alasan menulis:
Rindu, Merekam Ingatan, Praktisi
Aku lupa kapan tepatnya terakhir kali aku ‘menulis’, yang kuingat, saat itu aku masih kuliah semester 6. Aku menulis untuk sebuah koran lokal di Bogor untuk rubrik pendidikan.
Sebenarnya tak ada alasan pasti meninggalkan koran itu, tapi entah bagaimana dunia radio lebih menarikku masuk dan menikmati keseruannya. Hingga aku hijrah dari koran ke radio.
Oia, menulis yang kumaksud tadi adalah menulis yang pula untuk dibaca orang lain selain aku sendiri ya, karena rasa-rasanya ada tulisan-tulisanku yang tidak dipublikasikan. 😁 Karena aku orangnya pemalu 😁🙄.
Sejujurnya aku minder saat tau di group “Menulis Bersama” berisi orang-orang yang memang sudah aktif menulis, apalah ku dibanding mereka? Maka, sampai detik ini pun aku belum berani untuk jangankan nimbrung, say hai saja belum berani.
Aku sempat bicara pada mba Rini, “Mba, aku kayaknya izin leave Group saja, nanti aku mau japri Pak Pring dan Mas Jamil yo, soalnya aku kaget banget, group itu memang sudah paham menulis, lah aku.. Newbie banget :(.”
Kenyataannya, aku pun belum menghubungi para suhu di group itu, malah memberanikan diri membuat 'curhatan’ ini. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah sebuah keberanian. Saya dan segenap semangat memberanikan diri untuk itu.😊😊
Alasan menulis? Ah banyak, tapi mungkin ini beberapa yang kusaring dari sekian alasan.
1. Menulis bagiku mengobati rindu.
Aku menulis di koran sejak 2007, saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMA, dan aku ingat betul, aku resign dari Koran Bogor Desember 2011. Artinya, selama 4 tahun selain sekolah, keseharianku menulis di koran. Tapi bukan berarti aku mahir menulis, tidak, sama sekali tidak, rasany ada 'kekakuan’ koran yang tak bisa aku pecahkan, maka jangan aneh menulis apapun yang kutulis, ada rasa-rasa koran yang belum sepenuhnya bisa lepas. Jujur, misi ini juga yang mengantarku pada group “Menulis Bersama”, aku ingin melepaskan dari tulisan rasa-rasa koran. Aku ingin bebas berbahasa, berekspresi dan berkreasi. 😊
2. Merekam Ingatan, lebih dari sekedar bahasa foto.
Saya setuju jika orang menganggap, foto adalah hal yang abadi, abadi untuk bercerita sekalipun tidak ada caption yang tertera dari sebuah foto. Orang tinggal menggintip akun-akun media sosial saya, dan mereka akan tahu siapa saya.
Tapi bukan itu yang saya mau, bukan hanya orang sekedar tahu saya dari foto-foto yang saya unggah. Saya lupa quote ini dari siapa “no one can tell your story so tell it yourself, no one can write your story so write it yourself”. Nah, 'sebagus’ atau 'seburuk’ foto yang saya posting di Medsos meskipun tanpa caption, orang akan selalu bisa membuat caption itu sendiri, bisa lebih baik atau lebih buruk dari maksud foto yang saya posting itu.
Satu hal, dengan tulisan, saya yakin ada rekaman ingatan yang tercipta dari sekedar foto, karena tulisan lebih abadi dari sebuah foto.
3. Akademisi dan praktisi Praktisi
Bahwa hidup memilih. Saya percaya itu. Dan saya ingin belajar banyak hal, bergabung bersama siapa saja, menyerap apa saja. Terkadang ada bosan yang tak bisa diceritakan saat setiap hari mengulang hal-hal yang biasa dilakukan, berangkat dari rumah menuju kampus, mengajar, pulang. Setiap hari begitu, setiap hari loh. Sampai saya memilih untuk mencari kegiatan diluar kampus dan menyeimbangkan hidup. Dan saya yakini bahwa seorang akademisi akan lebih bertenaga jika juga mampu sebagai praktisi, maka saya hadir di group “Menulis Bersama”. 😊